Masyarakat Indonesia Masih Belum Berani Investasi di Risiko Tinggi

Angga Bratadharma    •    Kamis, 04 Feb 2016 20:37 WIB
manulife aset manajemen indonesia
Masyarakat Indonesia Masih Belum Berani Investasi di Risiko Tinggi
illustrasi. (ROMMY PUJIANTO,MI).

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai karakteristik masyarakat Indonesia masih belum berani untuk mengambil instrumen investasi dengan tingkat risiko yang tinggi. Padahal, tingkat risiko yang tinggi ini biasanya diimbangi dengan tingkat imbal hasil yang tinggi pula.

Presiden Direktur MAMI Legowo Kusumonegoro mengatakan, secara umum masyarakat Indonesia masih menempatkan dana investasinya di kelas aset dengan tingkat risiko yang rendah. Bahkan, kalau bisa tingkat risiko tersebut berada di angka nol atau artinya tidak ada sama sekali risiko.

"Bagaimana investasi mencapai target tapi risikonya nol. Padahal kalau risiko tinggi maka return tinggi. Orang Indonesia memang belum terbiasa menempatkan dana aset di kelas risiko tinggi," ungkap Legowo, dalam Manulife Investor Sentiment Index, di Gedung Sampoerna Strategic, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Dalam survei yang dilakukan Manulife menunjukkan bahwa di 2015 investor memiliki harapan agar imbal hasil berada di posisi 14,8 persen. Sedangkan di 2015, investor lebih realistis dengan berharap imbal hasil berada di posisi 11,8 persen, dengan menempatkan dana di beberapa instrumen investasi.

Dalam hal ini, jelas Legowo, Manulife membuat sejumlah skenario penempatan dana investasi. Apabila sebanyak 50 persen dana di investasikan di obligasi, 30 persen di deposito, dan 20 persen di saham maka potensi imbal hasil yang didapatkan adalah sebanyak 9,4 persen.

Sementara itu, bila instrumen investasi di saham diperbesar hingga menjadi 40 persen, obligasi jadi 40 persen, dan 20 persen di deposito maka potensi imbal hasil yang didapatkan sebanyak 10,2 persen. Apabila investasi jauh lebih agresif dengan memperbesar instrumen investasi saham sebesar 70 persen, maka potensi imbal hasil bisa mencapai 13,7 persen.

"Kalau mau return tinggi maka orang harus berani ambil risiko seperti ini. Tapi sayangnya, kok saya merasa masyarakat Indonesia masih belum siap untuk berinvestasi di tingkat risiko yang tinggi. Padahal, risiko yang tinggi juga diimbangi dengan return yang tinggi," pungkasnya.


(SAW)