Perlindungan Varietas Punya Posisi Strategis

Tri Kurniawan    •    Rabu, 06 Dec 2017 20:24 WIB
berita kementan
Perlindungan Varietas Punya Posisi Strategis
Mentan Amran Sulaiman. Foto: Medcom.id/Anindya Legia Putri

Malang: Posisi perlindungan varietas tanaman yang di dalamnya mencakup perlindungan varietas, pendaftaran varietas lokal dan hortikultura, akan semakin strategis. Perlindungan varietas tanaman sejalan dengan pengembangan industri perbenihan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berharap jajaran Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian melihat hal itu dalam tataran lebih luas, mulai dari pengembagan plasma nutfah hingga penggunaan benih oleh petani.

"Upaya perlindungan, pelepasan serta pendaftaran varietas pada ujungnya terkait erat dengan ekonomi dan bisnis perbenihan," kata Amran dalam sambutannya untuk acara perlindungan varietas tanaman goes to campus di Universitas Brawijaya, Malang, seperti dibacakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Muhammad Syakir, Rabu, 6 Desember 2017.



Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian memberikan penghargaan kepada pemulia dan para pihak yang berperan dalam pelestarian plasma nutfah dan varietas lokal saat acara goes to campus di Universitas Brawijaya.

Klik: Kementan Apresiasi Pemulia dan Pelestari Varietas Lokal

Karena itu, lanjut Amran, beragam dimensi terkait, baik dalam tataran masyarakat internasional serta industri benih dalam negeri agar diperhatikan serius. Koordinasi intensif dengan semua pemangku kepentingan sangat penting.

Amran juga meminta semua pihak menjadikan benih dan bibit sebagai tulang punggung utama dalam memicu peningkatan produksi pertanian.
 
Di tataran global, kata Amran, saat ini ada persoalan kesenjangan pemilikan plasma nutfah dan penguasaan teknologi untuk pemanfaatan plasma nutfah. Kondisi ini mendorong masyarakat internasional menyusun kesepakatan mengenai pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya sumber daya genetik.

Dia mengatakan, saat ini ada kesepakatan Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Keanekaragaman Hayati), Nagoya Protocol, dan  International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA).

"Semua kesepakatan internasional ini mengatur bagaimana lalu lintas plasma nutfah antar negara, terutama antara negara yang kaya plasma nutfah dengan yang maju teknologinya. Indonesia telah meratifikasi semua kesepakatan internasional tersebut," ujar Amran.



Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Muhammad Syakir melihat produk hortikultura yang dipamerkan di lokasi acara goes to campus di Universitas Brawijaya. Foto: Medcom.id/Tri Kurniawan

Menurut Amran, Indonesia sudah sangat berpengalaman dalam pemanfaatan plasma nutfah, baik melalui pemanfaatan langsung tanpa memerhatikan sifat genetik, seperti pengalaman dengan rempah, serta upaya memanfaatkan keunggulan genetik dengan kearifan lokal dan pemuliaan.

"Balitbangtan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian) saat ini mengembangkan tebu POJ 2878, VUB padi Ciherang aromatik, jeruk medan tanpa biji, dan pengembangan varietas amphibi untuk lahan sawah dan kering," katanya.

Klik: Perlindungan Varietas Harus Untungkan Pemulia & Petani

Balitbangtan juga sedang mengembangkan upaya pemanfaatan sumber daya genetik (SDG) melalui bioprospeksi, kegiatan eksplorasi materi hayati untuk mendapatkan bahan genetik dan sifat-sifat biokimia bernilai komersial. Amran menyampaikan, upaya ini untuk mendapatkan senyawa terutama metabolit sekunder baru.

"Bioproduk yang diperoleh terutama terkait produk biopharmaca yang punya nilai ekonomi tinggi. Kegiatan ini menggunakan biosains dan bioengineering," tutur Amran.


(TRK)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA