Hati-hati, Ada 182 Penyedia Jasa Kredit Online tak Berizin

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 07 Sep 2018 17:25 WIB
ojkinvestasi bodong
Hati-hati, Ada 182 Penyedia Jasa Kredit <i>Online</i> tak Berizin
Ilustrasi OJK. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan entitas yang melakukan kegiatan usaha kredit secara online atau peer to peer lending namun tidak terdaftar atau memiliki izin usaha dari OJK.

Berdasarkan pemeriksaan pada website dan aplikasi pada Google Playstore, Satgas Waspada Investasi menemukan 182 entitas yang melakukan kegiatan Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi atau Fintech Peer-To-Peer Lending.

"Namun tanpa izin OJK sesuai POJK 77/POJK.01/2016 yang berpotensi merugikan masyarakat," kata Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing di Kantor OJK, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat, 7 September 2018.

Satgas Waspada Investasi meminta entitas tersebut untuk menghentikan kegiatannya, menghapus semua aplikasi penawaran pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Selain itu, mereka juga diminta menyelesaikan segala kewajiban kepada pengguna dan segera mengajukan pendaftaran ke OJK.

"Satgas Waspada Investasi juga meminta masyarakat untuk tidak melakukan kegiatan dengan entitas yang tidak berizin tersebut karena tidak berada di bawah pengawasan OJK dan berpotensi merugikan masyarakat," jelas dia.

Informasi mengenai daftar entitas fintech peer to peer lending yang terdaftar atau memiliki izin dari OJK dapat diakses melalui website OJK. Dengan temuan ini, jumlah peer to peer lending tidak berizin yang ditemukan Satgas Waspada Investasi menjadi 407 entitas.

Sebelumnya OJK menemukan 227 entitas peer to peer lending yang beroperasi tanpa izin OJK, namun dua platform di antaranya telah mempunyai izin dan terdaftar di OJK yaitu Bizloan dan KTA Kilat. Bizloan merupakan aplikasi milik dari PT Bank Commonwealth sedangkan KTA Kilat merupakan milik dari PT Pendanaan Teknologi Nusa.

 


(AHL)