Kasus Kecurangan Beras AISA, HOKI tak Revisi Bisnis Penjualan Beras

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 09 Aug 2017 17:25 WIB
beras
Kasus Kecurangan Beras AISA, HOKI tak Revisi Bisnis Penjualan Beras
Illustrasi Beras (ANT/Trisnadi).

Metrotvnews.com, Jakarta: ‎Anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), yakni PT Indo Beras Unggul (IBU)‎ ‎sedang tertimpah musibah, setelah kepolisian menggerebek pabrik beras perusahaan di Jalan Rengas KM 60 Karangsambung, Kedungwaringan, Bekasi, Jawa Barat. ‎Hal itu karena perusahaan diduga melakukan kecurangan pada saat menjual beras.

Adanya kasus besar yang dipikul oleh AISA, tidak membuat PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) merevisi target bisnisnya yang telah ditetapkan sejak awal tahun. Sebagaimana diketahui, bisnis Buyung Poetra banyak memproduksi beras.

Investor Relation HOKI, Dion Surijata mengatakan, sampai saat ini tidak ada revisi target, meski sedang berhembus kabar kurang enak dari anak usaha AISA.

"Belum ada perubahan rencana dari sejak IPO, kalau tidak ada perubahan besar yang buat kondisi penjualan berubah," kata Dion, ditemui di Gedung BEI, SCBD Sudirman, Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.

Perseroan membidik pendapatan sebesar Rp1,4 triliun hingga akhir 2017, dengan perolehan laba sebesar Rp90 miliar. Sepanjang semester pertama tahun ini, pendapatan perseroan telah mencapai Rp700,6 miliar dengan laba yang sudah diperoleh mencapai Rp45,2 miliar.

Lanjut Dion, perusahaan sendiri selama ini membeli gabah untuk dijadikan beras dari petani melalui pengumpul. Karena, manajemen belum punya lahan sawah untuk bisa diolah.

"Kami beli dari pengumpul, harga belinya agak bervariasi tergantung jenis berasnya. Sesuai dengan harga yang ada jadi sesuai yang mereka minta," kata Dion.

Gabah yang dibeli, lanjut Dion, perusahaan tidak mau menyebutkan harganya. Tapi yang pasti, harga gabah sesuai mekanisme yang ada di pasaran, dan telah ditetapkan oleh penjual.

Perseroan membeli gabah basah sebesar 30 persen dari pengumpul dari beberapa wilayah seperti Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan, 70 persen lainnya dibeli perseroan dari beberapa penggilingan yang tersebar di Indonesia.


(SAW)