Bank Negara tak Cari Modal untuk LRT dari Top Up e-Money

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 15 Sep 2017 19:03 WIB
transaksi non tunaiemoney
Bank Negara tak Cari Modal untuk LRT dari <i>Top Up</i> e-Money
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membantah bahwa perbankan pelat merah yang tergabung dalam himpunan perbankan nasional (Himbara) tidak mencari modal untuk membiayai program infrastruktur dengan menekankan biaya pada masyarakat sebagai nasabah.

Saat ini, pengenaan biaya pada masyarakat sedang menuai kontra, yakni terkait adanya biaya untuk isi ulang atau top up uang elektronik yang dilakukan di rekanan seperti Indomart dan lain sebagainya.

"Bank Himbara tidak pernah berfikir untuk cari modal dari top up tersebut," kata Deputi bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN, Gatot Trihargo pada Metrotvnews.com, Jakarta, Jumat 15 September 2017.

Adapun proyek infrastruktur yang dimaksudkan yakni kereta api ringan atau light rail transit (LRT) Jabodebek. Proyek dengan investasi Rp21,7 triliun itu masih butuh pasokan dana sebesar Rp18,5 triliun. Untuk menutupi kekurangan tersebut, perbankan ditugaskan mengucurkan modal demi membantu PT KAI yang bertugas sebagai investor.

Gatot menjelaskan, dari nilai Rp18,5 triliun tersebut digelontorkan selama tiga tahun hingga 2019. Menurut dia jumlah dana yang dibutuhkan sangat jauh jika dibandingkan dengan aset perbankan milik negara yang sangat besar. Sehingga bank bisa membiayai dengan aset yang ada tanpa harus membebani masyarakat.

"Aset Bank Mandiri misalnya, lebih dari Rp1.000 trilium. Kalau Rp18,5 triliun kan tidak signifikan. Apalagi pendanaan LRT juga ada dari BRI, BNI dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI)," jelas Gatot.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan untuk pendanaan LRT bakal dilakukan perbankan layaknya memberikan pinjaman yang sama pada nasabah lainnya.

 


(AHL)