Tarif Bea Masuk Gula Mentah Australia akan Diturunkan

Fauzi Jamal    •    Senin, 11 Sep 2017 11:17 WIB
gula
Tarif Bea Masuk Gula Mentah Australia akan Diturunkan
Indonesia berencana menurunkan tarif bea masuk impor gula mentah (raw sugar) dari Australia menjadi lima persen dari sebelumnya 8-13 persen (Foto: Humas Kemendag)

Metrotvnews.com, Manila: Indonesia berencana menurunkan tarif bea masuk impor gula mentah (raw sugar) dari Australia menjadi lima persen dari sebelumnya 8-13 persen. Penurunan tersebut menyusul permintaan Australia yang disampaikan langsung Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull saat bertemu Presiden Joko Widodo, pada Februari 2017 lalu.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengakui pemerintah telah menyetujui permintaan Australia untuk menurunkan tarif bea masuk impor gula mentah. Namun pemerintah juga meminta penurunan tarif bea masuk pestisida dan herbisida ke pasar Australia.

"Pemerintah Australia pun menyetujui permintaan Indonesia untuk menurunkan tarif bea masuk pestisida dan herbisida," ujarnya, Senin 11 September 2017.

Iman mengungkapkan, kesepakatan Indonesia-Australia dicapai dalam pertemuan bilateral antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan Menteri Perdagangan, Pariwista dan Investasi Australia Steven Ciobo di sela pertemuan ASEAN Economic Ministers di Pasay City, Filipina.

Adapun implementasi kebijakan tersebut akan dimasukkan dalam perjanjian ASEAN Australia New Zealand Free Trade Area (AANZFTA). Diharapkan, kebijakan itu memberikan efek positif bagi kedua belah pihak dan saling mempererat hubungan satu sama lain.

Menurut Iman, penurunan bea masuk gula mentah Australia akan menguntungkan pasar dalam negeri karena dapat menciptakan perdagangan gula yang kompetitif. Selama ini, impor gula mentah mayoritas berasal dari Thailand. Dengan demikian, Indonesia akan mendapat negara alternatif impor gula mentah.

Selain itu, impor dari Australia tidak menambah kuota impor gula mentah yang jumlahnya 1,1-13 juta ton per tahun. Keuntungan lainnya, lanjut Iman, Indonesia dapat memperluas negara tujuan ekspor pestisida dan herbisida karena Australia telah memberikan kemudahan. Terlebih lagi, transaksi impor pestisida dan herbisida Australia tiap tahunnya mencapai USD400 juta.

 


(ABD)