Mulai Digarap, Palapa Ring bakal Rampung 2019

   •    Rabu, 30 Nov 2016 11:11 WIB
proyek palapa ring
Mulai Digarap, Palapa Ring bakal Rampung 2019
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memastikan proses proyek pembangunan Palapa Ring di tiga bagian wilayah Indonesia, Barat, Tengah dan Timur, sudah berjalan. Dengan demikian, dia mengaku optimistis bahwa proyek yang sempat mangkrak selama 10 tahun itu bisa rampung pada 2019.

"Groundbreaking bagian barat sudah dilakukan di Singkawang. Bagian tengah di Morotai sudah dilakukan minggu lalu. Bagian timur, kontraknya sudah tinggal menunggu financial closing-nya yang menurut rencana awal tahun depan," papar Rudiantara kepada media di Jakarta, kemarin.

Baca: PII Jamin Proyek Palapa Ring Rp5,1 Triliun

Rudiantara menjelaskan proyek Palapa Ring merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membangun ketersediaan layanan jaringan serat optik sebagai tulang punggung bagi sistem telekomunikasi nasional yang menghubungkan seluruh kabupaten dan kota di Indonesia. Bila itu sudah jadi, semua ibu kota kabupaten dan kota madya telah terhubung dengan broadband.

Tentu saja, kata Rudiantara, ada sejumlah tantangan dari pelaksanaan proyek tersebut. Tantangan terbesar dari proyek senilai Rp21 triliun itu ialah muka bumi Indonesia yang menantang dan sulit dijangkau. Untuk itu, tambah dia, perlu dijalin kerja sama dengan banyak pihak untuk memastikan tantangan dapat teratasi.

"Sekarang sudah tanda tangan dengan menteri pekerjaan umum manakala bikin jalan, sebelahnya akan dibangun ducting buat serat optik," lanjut dia.

Baca: Tiga Lembaga Biayai Proyek Palapa Ring Rp975 Miliar

Aksesibilitas internet, menurut Rudi, bukan satu-satunya tantangan penetrasi di Indonesia. Tantangan lainnya ialah perilaku pengguna di dunia maya.

"Saat ini sudah ada 770 ribu konten yang kami blokir. Akan tetapi, kalau kita lakukan itu, capek. Kedua, banyak kritik. Seperti menyembuhkan orang sakit," lanjut Rudi.

Pakar telekomunikasi Onno W Purbo mengatakan 770 ribu konten yang diblokir Kemenkominfo itu baru 10 persen dari total konten berbahaya di internet yang semestinya diblokir. Ia menambahkan persoalan itu sudah demikian kronis hingga aksi kuratif tidak cukup.

"Sangat mudah aksesnya, sekarang saja masih bisa," lanjut Onno.

Dalam menanggapi hal itu, Rudi menyatakan revisi UU Informasi dan Transaksi Elektronik sekalipun bukan obat paling mujarab. Itu disebabkan revisi hanya memperbaiki kemungkinan multitafsir dari pasal 27 ayat 3 dengan salah satunya menurunkan ancaman hukuman dari 6 tahun menjadi 4 tahun. (Media Indonesia)


(AHL)