Aspal Buton untuk Kesejahteraan Rakyat

M Studio    •    Rabu, 31 Aug 2016 10:00 WIB
wisata indonesia timur
Aspal Buton untuk Kesejahteraan Rakyat
Alat berat mengeruk bahan baku aspal di Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara (Foto:MI/Halim Agil)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejak dahulu, Indonesia dikenal dengan kekayaan alamnya. Bangsa ini dijajah ratusan tahun untuk dieksploitasi hasil buminya. Namun setelah 71 tahun merdeka, kekayaan alam Indonesia masih belum dimanfaatkan dengan baik.

Salah satunya adalah aspal. Sejak 1920-an, Belanda telah mengetahui besarnya potensi aspal di Pulau Buton. Pulau yang terletak di sekitar gugusan Pulau Sulawesi itu terkenal sebagai penghasil terbesar aspal alam di Indonesia. Bahkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat aspal Buton menyimpan 80 persen dari total cadangan aspal alam dunia. Sisanya ditemukan di beberapa negara seperti Trinidad, Meksiko, dan Kanada.

Aspal Buton atau yang dikenal dengan sebutan "asbuton" ditemukan pada 1924 oleh geolog Belanda bernama WH Hetzel Asbuton. Dua tahun kemudian, asbuton digunakan untuk mengaspal sejumlah jalan.

Eksploitasi dan produksi aspal di Buton mencapai puncaknya pada 1970-1980. Aspal Buton diproduksi dan digunakan untuk berbagai pembangunan jalan raya dalam negeri.

Pada era 1970-an, aspal Buton digunakan untuk membangun jalan Jakarta-Cirebon sepanjang 240 kilometer. Pada era yang sama, ruas Jalan Cimahi-Padalarang juga dibangun menggunakan aspal buton.

"Pembangunan jalan raya pantai utara di Pulau Jawa itu menggunakan aspal Buton,” kata Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun.

Sayangnya, pamor aspal Buton perlahan terkikis. Kalah oleh aspal impor, yakni aspal minyak yang dibeli dari Singapura. Meski tidak memiliki sumber daya alam, Singapura mampu mengatur perdagangan aspal minyak.

Sebagai negara besar dengan luas hampir 2 juta kilometer per segi, Indonesia dituntut memiliki infrastruktur jalan yang mencukupi sebagai penghubung wilayah di nusantara. Pemerintah telah merencanakan proyek pembangunan jalan nasional lebih dari 3.000 kilometer hingga 2019 (2.560 kilometer jalan baru dan 1.000 kilometer jalan tol) untuk memenuhi kebutuhan ruas jalan nasional.

Indonesia membutuhkan aspal sekitar 1,2 juta ton setiap tahunnya. Namun, dua pertiga aspal yang digunakan masih berasal dari impor (66 persen aspal impor, 34 persen aspal lokal).

“Setiap tahun, negara membelanjakan Rp10,8 triliun untuk membeli aspal minyak impor,” ucap Bupati Buton yang akrab disapa Umar.

Sejak terpilih menjadi Bupati Buton bersama Wakil Bupati La Bakry, pada Agustus 2012, Umar bergerak memasyarakatkan kembali penggunaan aspal Buton untuk membangun jalan raya di Indonesia. Langkah ini mendapat dukungan dari Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam.

Presiden Joko Widodo pun mendorong penggunaan aspan Buton untuk pembangunan jalan nasional. Awal Januari 2016, saat menggelar pertemuan dengan para bupati dan wali kota se-Indonesia Timur di Istana Bogor, Presiden menginstruksikan penghentian impor aspal minyak. Presiden memberikan tenggat, pada 2016, seluruh pasokan aspal untuk kebutuhan proyek di dalam negeri harus diganti dengan aspal Buton.

Menggunakan aspal buton bukan hanya memanfaatkan sumber daya alam dalam negeri, namun juga berarti melakukan efisiensi dan penghematan. Lantaran cadangan yang melimpah,  untuk membangun jalan sepanjang satu kilometer hanya membutuhkan dana sekitar Rp900 juta. Jauh lebih murah ketimbang aspal minyak yang menelan biaya Rp1,8 miliar per kilometer. Kualitasnya pun bersaing dengan aspal minyak.

"Kalau kita arahkan dengan aspal Buton, setidaknya dengan harga yang sama dengan aspal minyak, berarti pemerintah bisa menghemat devisa sekitar 1 juta, dikalikan harga-harga aspal minyak. Berapa dolar harga aspal minyak, itulah penghematan. Itu dari sisi penghematan devisa. Dengan aspal Buton kita bisa dapat lebih murah daripada aspal minyak. Itu dari sisi nominal. Ini ada suatu penghematan dari anggaran pemerintah untuk konsumsi jalan. Jalan satu kilometer mungkin bisa jadi jalan satu setengah kilometer kalau pakai aspal Buton," ucap Moch Mahmud, peneliti aspal Buton.


Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun (Foto:MI/Halim Agil)

Dari cadangan sebesar 3,8 miliar ton aspal di Buton bila diesktraksi bisa menjadi 767 juta ton aspal
potensi. Jumlah itu mampu memenuhi kebutuhan aspal untuk jalan nasional selama 360 tahun mendatang. Jika dikelola dengan benar, nilai ekonomi aspal Buton bisa mencapai Rp2.301 triliun. Pangsa pasar ekspor pun terbuka lebar. Jika dikembangkan berpotensi menghasilkan devisa Rp134 triliun.

Melihat potensi ekonomi yang besar, tak heran Pemkab Buton menjadikan aspal sebagai andalan atau
prioritas. “Tekad pemerintah pusat dan daerah untuk menggunakan aspal Buton akan meningkatkan pendapatan asli daerah kami. Itu akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Buton,” kata Umar.

Tanah Air dan seluruh kekayaan yang ada didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sudah 71 tahun kita merdeka, namun implementasi dari pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 belum sepenuhnya terwujud. Aspal Buton salah satu potret dari banyak kekayaan alam yang masih disia-siakan. Ini menjadi tantangan kita bersama untuk memanfaatkan karunia yang diberikan kepada negeri ini dipergunakan sepenuh untuk kemakmuran seluruh rakyat.


(ROS)

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

7 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA