Indonesia Harus Perkuat Ekspor Bernilai Tambah

Desi Angriani    •    Rabu, 07 Feb 2018 19:34 WIB
ekspor
Indonesia Harus Perkuat Ekspor Bernilai Tambah
Ekspor (MI/Abdus).

Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti rendahnya nilai ekspor Indonesia dibandingkan negara ASEAN lainnya. Ekspor Indonesia hanya berkontribusi 30 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sedangkan ekspor Thailand dan Malaysia berkontribusi lebih dari 70 persen serta Vietnam mencapai 93 persen.

Menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, ekspor bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi tahun ini jika pemerintah mulai melakukan diversifikasi produk ekspor.  Pasalnya selama ini  Indonesia bertumpu pada ekspor komoditas semata.

"Sumber Daya Alam besar tapi enggak bisa diolah untuk produksi bernilai tambah, jadi pemerintah harus memperkaya produk ekspor yang bernilai tambah," katanya dalam sebuah jumpa pers di Warung Daun Cikini, Jakarta, Rabu, 7 Februari 2018.

Heri menambahkan minimnya diversifikasi produk ekspor akan menyebabkan sulitnya Indonesia salam memanfaatkan momentum perbaikan ekonomi global.

Sementara dependensi pada ekspor bahan mentah sering kali bersinggungan dengan isu lingkungan, yang berujung pada pengenaan hambatan-hambatan ekspor baik tarif maupun non-tarif. Misalnya kasus CPO yang mengalami hambatan tarif dari Uni Eropa.

"Boleh saja ekspor barang mentah terus menerus disatu sisi devisa untuk negara,  di sisi lain,  bergantungnya ekspor komoditas menyebabkan sulit memanfaatkan peluang dari permintaan global," tutur dia.

Sebelumnya pada rapat terbatas di Istana Kepresidenan,  Presiden Joko Widodo menyebut ada kekeliruan yang harus dibenahi agar ekspor Indonesia lebih menggeliat dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

"Negara sebesar ini kalah dengan Thailand. Dengan resources dan SDM yang sangat besar, kita kalah. Ini ada yang keliru dan harus ada yang diubah," kata Presiden di Jakarta, Rabu 31 Januari 2018.

Tercatat nilai ekspor Indonesia pada 2017 sebesar USD170,3 miliar, Malaysia USD184 miliar, Thailand USD231 miliar dan Vietnam mencapai USD160 miliar.


(SAW)