Impor Garam Industri Dorong Perekonomian

Dian Ihsan Siregar    •    Minggu, 11 Feb 2018 16:32 WIB
impor garam
Impor Garam Industri Dorong Perekonomian
Petani Garam. MI/Gino F Hadi.

Jakarta: Polemik garam industri impor saat ini ditengarai sengaja 'dipelintir' oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan. Upaya tersebut kabarnya sengaja dimunculkan untuk memercikan api keresahan dikalangan petani garam dan masyarakat.

Mengenai hal ini, Direktur Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono menyampaikan dirinya tengah memberikan kemudahan izin bagi importir garam untuk kebutuhan sejumlah industri. Kebijakan ini diharapkan akan memberikan efek positif bagi perekonomian Indonesia.

"Pemenuhan bahan baku industri tentu membawa multiplier effect bagi perekonomian nasional, seperti impor bahan baku garam sebesar 3,7 juta ton senilai Rp1,8 triliun akan diolah menjadi berbagai macam produk dengan nilai tambah besar," kata Sigit dalam keterangan resminya, Minggu, 11 Februari 2018.

Sigit mengaku impor garam industri nantinya akan disalurkan untuk industri kertas, petrokimia, farmasi kosmetik, industri aneka pangan, pengasinan ikan, penyamakan kulit, pakan ternak, tekstil, resin, pengeboran minyak dan sabun. Semua sudah melalui hasil pembahasan.

Sementara itu, Sekretaris Maritime Society Agust Shalahuddin berpendapat garam industri adalah garam dengan kandungan NaCl yang tinggi, antara 95 hingga 97 persen. Pada industri kimia, garam adalah bahan baku dan bahan penolong. Bagi manusia, garam adalah penyedap alias bumbu makanan.

"Sederhananya, untuk industri yang dicari adalah mineralnya (Natrium Klorida), sementara untuk bumbu, yang dicari adalah rasa asinnya," papar Agust.

Pengguna garam industri adalah industri chlor alkali plant (CAP), farmasi, dan Industri Non CAP seperti perminyakan, pengasinan ikan, kulit, tekstil, sabun dan lain-lain. Hasil produksi garam rakyat masih belum mampu memenuhi kualitas garam industri.

Penyebabnya macam-macam, salah satunya adalah rendahnya salinitas air laut di sentra-sentra produksi garam di Indonesia. Untuk mencapai standar garam industri, diperlukan proses pengolahan lebih lanjut yang tidak murah. "Masyarakat tidak perlu khawatir karena peruntukkan garamnya memang berbeda," kata Agust.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tersebut, pihak Kemendag telah menerbitkan izin impor garam sebanyak 2,37 juta ton kepada 21 perusahaan yang terpilih.

Penerbitan izin tersebut dijelaskannya berdasarkan alokasi yang disepakati dalam rapat kordinasi di Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman. "Kami telah menerbitkan persetujuan impor garam industri sebanyak 2,37 juta ton," ujar Oke.

Oke juga menyampaikan garam industri tidak bisa dipindah tangankan atau garam impor tersebut tidak boleh diperjualbelikan kepasar konsumsi. Aturan yang melarang garam industri diperjualbelikan kepasar konsumsi sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 125 tahun 2015 tentang ketentuan impor garam.

"Jika ada yang melanggar pemerintah akan memberikan sanksi," tegas Oke.


(SAW)