LPS Naikkan Bunga Simpanan Valas 50 Bps

Husen Miftahudin    •    Rabu, 12 Sep 2018 16:34 WIB
lps
LPS Naikkan Bunga Simpanan Valas 50 Bps
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Medcom/Husen M.

Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan untuk valuta asing (valas) pada bank umum sebesar 50 basis poin (bps). Sementara simpanan dalam rupiah di bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga mengalami kenaikan sebesar 25 bps.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan kenaikan tersebut membuat simpanan valas di bank umum menjadi 2,0 persen. Sementara bunga simpanan rupiah di bank umum menjadi 6,50 persen dan simpanan rupiah di BPR sebesar 9,0 persen.

Kebijakan tersebut berdasarkan pertimbangan perkembangan suku bunga simpanan bank sebagai acuan yang mulai menunjukkan kenaikan secara gradual. Hal itu terjadi sebagai respons terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang saat ini berada di level 5,5 persen.

"Suku bunga simpanan perbankan masih menunjukkan tren kenaikan dan berpotensi untuk berlanjut sebagai bentuk respons atas kenaikan suku bunga kebijakan moneter," ujar Halim dalam konferensi pers di kantor LPS, Equity Tower, Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu, 12 September 2018.

Halim menambahkan perubahan tersebut merupakan penyesuaian atas perkembangan kondisi pasar keuangan demi menjaga stabilitas sistem keuangan. Meski, terdapat tekanan yang berasal dari penurunan nilai tukar dan volatilitas di pasar keuangan.

"Kondisi dan risiko likuiditas pun masih relatif stabil, namun terdapat peningkatan tendensi di tengah tren kenaikan bunga simpanan dan membaiknya penyaluran kredit," bebernya.

Dalam hal ini, sebut dia, LPS akan tetap melakukan monitoring dan evaluasi terkait kebijakan tingkat bunga penjaminan. LPS akan terus berupaya melakukan penyesuaian terhadap kebijakan tingkat bunga penjaminan sesuai dengan perkembangan tingkat bunga simpanan perbankan dan hasil evaluasi atas perkembangan kondisi ekonomi serta stabilitas sistem keuangan. 

LPS mengimbau agar perbankan lebih memperhatikan ketentuan tingkat bunga penjaminan simpanan dalam rangka penghimpunan dana. Dalam menjalankan usahanya, bank diharap memperhatikan kondisi likuiditas ke depan.

"Dengan demikian, bank diharapkan dapat mematuhi ketentuan pengelolaan likuiditas perekonomian oleh BI, serta pengaturan dan pengawasan perbankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)," tutup Halim. 

 


(SAW)