Praktisi Manajemen SDM Perlu Antisipasi 3 Transformasi Ketenagakerjaan

Gervin Nathaniel Purba    •    Selasa, 06 Nov 2018 16:28 WIB
berita kemenaker
Praktisi Manajemen SDM Perlu Antisipasi 3 Transformasi Ketenagakerjaan
Menaker Hanif Dhakiri. (Foto: Dok. Kemenaker)

Jakarta: Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengingatkan praktisi manajemen sumber daya manusia (MSDM) agar memberikan perhatian khusus terhadap masalah transformasi industri, transformasi pekerjaan, dan transformasi skill. 

Ketiga transformasi pada bidang ketenagakerjaan tersebut diyakini akan mempengaruhi seluruh pola hubungan dalam bisnis atau perusahaan di Indonesia.

"Ini merupakan tantangan yang harus dilalui dan diselesaikan. Saya meyakini praktisi HR (human resources) termasuk orang-orang penting, harus terlibat dalam transformasi, " ujar Hanif saat menjadi keynote speaker acara Conference Chief of Human Resources Officer (CHRO) yang digelar Perhimpunan Sumberdaya Manusia Indonesia (PMSM Indonesia) di Jakarta, Selasa, 6 November 2018.

Pada era digitalisasi atau otomatisasi sekarang ini, pola hubungan kerja akan berubah, kepemilikan (perusahaan) akan berubah, dan cara pengembangan karier juga akan berbeda dengan masa lalu.

Hanif mencontohkan industri baru berbasis aplikasi seperti Gojek, Grab, dan lainnya. Hubungan kerjanya sulit untuk diverifikasi. ILO bahkan menyebutnya sebagai the new form of employment.

"Mereka menyebut sebagai mitra, tapi juga rasa-rasa pekerja. Mitra rasa pekerja. Pekerja rasa mitra. Jadi tidak jelas dan perlu pembahasan lebih lanjut," ujarnya. 

Banyak hal mengalami perubahan sebagai dampak perkembangan teknologi informasi yang masif dan cepat. Hal ini menjadi tantangan bagi para praktisi MSDM.

"Kalau tak memiliki gagasan atau terobosan untuk mengelola dunia baru yang penuh perubahan ini, terus kita-kita ini bagaimana? Jangan sampai perubahan dunia ini membuat saya tak punya karier, " kata Hanif.

Di Indonesia, tantangan praktisi MSDM cukup besar, yakni ketiadaan karier terhadap 33 juta pekerja Indonesia. Yang mengkhawatirkan adalah 33 juta pekerja Indonesia terjebak dalam posisi sama di level terbawah pada sebuah industri. 

"Ini juga harus diberi perhatian. Ketika tak memiliki karier, maka masa depan generasi berikutnya akan bermasalah. Jika tantangan ini tidak bisa dihadapi, maka pada 2020-2030, saat Indonesia mengalami bonus demografi, maka kita akan menghadapi bencana besar," ujarnya.

Meski menghadapi banyak tantangan, praktisi MSDM juga diminta bersikap optimistis dan berpikir positif. Setiap perubahan harus disambut dengan penuh optimisme.

“Revolusi industri memiliki dampak luar biasa. Tetapi percayalah, pada akhirnya manusia akan mampu bertahan menghadapi perubahan yang cepat tersebut," ujar Hanif.



(ROS)