Pedagang Diminta Pisahkan Batik Tulis dan Batik Cetak

   •    Minggu, 02 Sep 2018 21:43 WIB
batik
Pedagang Diminta Pisahkan Batik Tulis dan Batik Cetak
UMKM. MI/Adam Dwi.

Bantul: Dewan Kerajinan Nasional Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta meminta pedagang batik di kawasan pusat perbelanjaan daerah itu memisahkan produk batik tulis dengan batik cetak saat menjual kepada konsumen.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY GKR Hemas mengatakan bahwa batik yang diproduksi secara cetak saat ini sudah banyak masuk ke Yogyakarta dan juga sudah banyak digunakan masyarakat.
 
"Maka dari itu saya berharap kepada pemerintah daerah, kalau bisa batik printing  ini betul-betul dipisahkan dengan batik tulis pada saat dijual," kata Hemas dikutip dari Antara, Minggu, 2 September 2018.

Menurut dia, pemisahan produk antara batik yang diproduksi pembatik secara tradisional (batik tulis) dengan batik cetakan tersebut bisa memberikan pembelajaran kepada masyarakat untuk mengetahui produk asli yang menjadi ciri khas daerah.
 
"Karena selama ini kita tidak pernah paham batik tulis dan printing, jadi kita berharap nanti toko di sepanjang Malioboro itu tidak hanya diimbau, syukur-syukur Gubernur mengeluarkan aturan bahwa penjualan batik 'printing' harus dipisah dengan batik tradisioal," katanya.
  
GKR Hemas mengatakan kebijakan tersebut diambil juga sebagai bagian dari upaya lembaganya bersama pemerintah daerah bahwa kerajinan yang sudah diproduksi pembatik tersebut naik nilainya dan bisa dikenal sebagai pasar batik yang sesungguhnya.
  
"Apalagi batik yang ada di Kota Yogyakarta tidak hanya berasal dari Jogja, Bantul, Gunung Kidul dan Sleman tetapi juga dari beberapa daerah yang kami kunjungi, misal Pekalongan, Cirebon dan Madura. Kami juga lihat perajin batik di kota-kota tersebut," katanya.
  
Menurut dia, masuknya batik printing di Indonesia termasuk Yogyakarta bukan hanya menjadi tantangan perajin batik itu sendiri, namun menjadi tantangan bersama  bangsa Indonesia untuk mengembangkan batik tulis dengan gencar melakukan promosi dan pameran.
  
"Saya kira banyak hal yang perlu dipertontokan pada dunia melalui kehadiran para peneliti atau pemerhati kerajinan di dunia, di mana mereka bisa melihat kelihaian para pembatik. Saya harap pembatik kita bisa termotivasi untuk bisa bersaing," katanya.


(SAW)