Pertemuan IMF-Bank Dunia Genjot Potensi Wisata di Mandalika

Desi Angriani    •    Kamis, 27 Sep 2018 10:29 WIB
imf-world bank
Pertemuan IMF-Bank Dunia Genjot Potensi Wisata di Mandalika
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (Foto:Antara/Ahmad Subaidi)

Jakarta: Sebagai tuan rumah pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2018, Indonesia diyakini akan mendapat banyak keuntungan dengan total kontribusi mencapai Rp6,9 triliun terhadap perekonomian nasional. Angka itu diperoleh dari investasi infrastruktur, keuntungan hunian hotel, perputaran uang hingga potensi pariwisata.

Salah satu barang jualan baru pemerintah untuk menggenjot pariwisata dalam pertemuan ekonomi terbesar di dunia tersebut ialah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dirut PT Indonesia Tourism Development Corporation (Persero) Abdulbar M Mansoer mengatakan kawasan Mandalika terus berbenah dan melakukan pembangunan guna menggaet wisatawan. 

Untuk membangun infrastruktur dasar dan fasilitas pendukung lainnya, pemerintah membutuhkan sekitar Rp4,5 triliun. Sementara pembangunan hotel/resort membutuhkan dana Rp45 triliun yang bisa diambil dari modal investor.

"Kita butuh infrastruktur jalan termasuk jaringan listrik, kemanan, dan landscape dengan total Rp4,5 triliun. Ini bisa jangka panjang, kalau untuk bangun hotel ya dari investor. Kalau ditotal bisa sepuluh kali dari infrastruktur dasar, atau Rp45 triliun," kata Abdulbar M Mansoer pada program Top Executive Metro TV, Rabu, 26 September 2018.

Abdul menuturkan sedikitnya tujuh investor asing telah menanamkan modalnya untuk membangun hunian di kawasan Mandalika. Salah satunya, perusahaan dari Prancis yang merupakan investor terbesar dengan nilai investasi Rp14,5 triliun. Melalui anak perusahaan, Vinci Group mengambil kawasan paling besar dengan luas 131 hektare. 

Mereka berencana membangun spot and entertainment master di jantung Mandalika berupa 10 hotel, convention center,  ritel, water park, hingga sirkuit MotoGP. Pembangunannya, kata Abdul, dilakukan secara bertahap atau selama 15 tahun sesuai penyerapan pariwisata di Mandalika. 

"Kita mendapatkan tujuh investor, yang paling besar Vinci dari Prancis. Sudah 131 hektare yang saya tandatangani dan ada 20 hektare yang akan dibangun di luar kawasan, dibangun selama 15 tahun atau senilai Rp14,5 triliun," ujarnya.

Pada kerja sama tersebut, investor bertanggung jawab dalam membangun dan mengelola hunian atau resort. Sementara, PT Indonesia Tourism Development Corporation (Persero) sebagai pemilik tanah akan memiliki saham dari 20 hingga 80 persen sesuai kesepakatan. 

Selain Vinci, Qatar juga menaruh minat membangun area Golf serta pembangunan hotel bintang lima senilai USD500 juta. "Mereka akan bangun dan kelola. Kami sebagai pemilik tanah punya saham 20-80 persen," kata Abdul.

Pemerintah menargetkan 2 juta wisatawan asing dan 100 ribu pengunjung per hari dalam kurun waktu lima tahun ke depan dengan mempromosikan Mandalika sebagai wisata alam (nature) dan buatan (man made). 

Abdul meyakini erupsi Gunung Agung dan gempa yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Lombok beberapa waku lalu, tidak akan menghambat target tersebut. Apalagi Mandalika berada di selatan Lombok, atau wilayah yang tidak terdampak gempa. 

"Kita di Mandalika atau posisi di selatan Lombok, sedangkan gempa di Lombok Timur, Utara, dan Barat. Jadi, tidak ada kerusakan sama sekali. Aman. Kita lakukan pengecekan teknis di kolom-kolom, ternyata tidak ada kerusakan," kata Abdul menegaskan.


(ROS)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

1 day Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA