Pimpinan DPR Soroti Krisis Energi, Pangan, dan Air

Anggi Tondi Martaon    •    Selasa, 20 Jun 2017 13:23 WIB
berita dpr
Pimpinan DPR Soroti Krisis Energi, Pangan, dan Air
Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan. Foto: Dok. DPR

Metrotvnews.com, Jakarta: Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan meminta pemerintah menentukan tema, sasaran, arah kebijakan, dan prioritas pembangunan dalam penyusunan anggaran setiap tahunnya. Hal itu diperlukan agar Indonesia terhindar dari krisis energi, pangan, dan air.

Hal itu disampaikannya dalam kuliah umum bertema Model Pengelolaan Keuangan dan Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur Kawasan, di Universitas Diponegoro, Semarang. Menurut Taufik, mengungkapkan, krisis energi, pangan dan air disebabkan oleh ledakan jumlah penduduk yang dahsyat. 
 
"Krisis di sini menyangkut tiga hal. Konsumsi energi naik 41 persen di tahun 2035 berdasar estimasi jumlah penduduk 11 miliar orang. Tahun 2056, jumlah penduduk dunia 14, 5 miliar. Tahun 2056 diperiksa energi fosil akan habis," kata Taufik. 
 
Selain itu, di hadapan Rektor Undip, para Dekan, civitas akademika kampus dan para mahasiswa, politikus PAN itu juga menjelaskan bahwa saat ini dunia sedang mengalami suatu proses keseimbangan. Untuk menuju pada posisi seimbang, akan terjadi transformasi kultural di setiap lini kehidupan baik ekonomi, sosial, politik, dan budaya. 

Dia menyebutkan, persoalan tersebut diakibatkan oleh jumlah penduduk dunia yang sangat padat. "Yang idealnya jumlah penduduk tiga sampai empat miliar. Terjadi perubahan penduduk yang sangat dahsyat," ungkap Taufik. 
 
Karena jumlah penduduk dunia yang terus bertambah, sedangkan di sisi lain ketersediaan kebutuhan penduduk terbatas maka akan terjadi kelangkaan energi, pangan dan air. Dalam kondisi kelangkaan energi, diprediksi akan terjadi pada 2056. Maka akan terjadi perubahan penggunaan energi dari fosil ke energi hayati. 
 
Oleh karena itu, Taufik mewanti-wanti Indonesia sebagai negara tropis penghasil energi hayati harus mampu menjawab tantangan tersebut. Jangan sampai malah menjadi korban keadaan dunia. 

"Adanya perubahan penggunaan energi fosil ke energi hayati, otomatis negara negara yang berada di daerah tropis itu menjadi negara primadona. Incara bagi negara-negara industri untuk mendapatkan sumber energi hayati menggantikan energi fosil," papar Taufik.  
 
Oleh sebab, dia mengingatkan pemerintah agar perencanaan dan pelaksanaan APBN menyingkronkan proses perencanaan dan penganggaran pembangunan nasional. Sehingga efektivitas dari anggaran yang disusun bisa dilaksanakan dengan baik dan mampu menghindarkan negeri ini dari krisis energi, panga dan air.
 
Untuk itu dia menyarankan dalam penyusunan RKP 2018, semestinya mengacu pada pendekatan perkuatan pelaksanaan kebijakan money follows program. "Penguatan tersebut dilaksanakan dengan pendekatan tematik, holistik, integratif, dan spasial dengan memperhatikan pada pengendalian perencanaan, perkuatan perencanaan dan penganggaran untuk RKP 2018, perkuatan perencanaan berbasis kewilayahan, dan perkuatan integrasi sumber pendanaan," tandas dia.





(ROS)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA