Enam Penyebab Kebangkrutan 7-Eleven

Desi Angriani    •    Jumat, 14 Jul 2017 14:58 WIB
7-eleven
Enam Penyebab Kebangkrutan 7-Eleven
Ada enam penyebab kebangkrutan gerai Sevel. (FOTO: MI/Ramdani)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Modern Internasional Tbk (MDRN) melalui anak usahanya PT Modern Sevel Indonesia mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan gerai 7-Eleve‎n (Sevel) bangkrut. Bisnis ritel modern ini mulai mengalami krisis dua tahun terakhir sejak berdirinya Sevel pada 2005.

"Manajemen menyadari bahwa penghentian kegiatan operasional 7-Eleven yang telah berdiri sejak 2009 di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor baik faktor internal maupun eksternal," Direktur PT Modern Internasional Tbk Chandra Wijaya dalam public expose di Kantor Sevel, Jalan Matraman Raya, Jakarta, Jumat 14 Juli 2017.

Chandra menuturkan, sejak 2015, pihaknya gencar mencari investor baru untuk melakukan pengembangan bisnis 7-Eleven. Namun, kesepakatan untuk mengakuisisi bisnis Sevel dengan anak usaha CPIN PT Charoen Pokphand Resto Indonesia tidak mencapai titik temu. Sebab, Master Franchisor Seven Eleven Inc (SEI)  menerapkan persyaratan yang sangat memberatkan.

"Salah satunya adalah dengan hanya memberikan waktu masa berlaku waralaba selama satu tahun bagi investor untuk menyelesaikan segala masalah yang ada. Hal ini mengakibatkan para investor potensial yang telah diusahakan mengurungkan niatnya untuk melakukan investasi," ungkap dia.

Faktor kedua, perseroan melakukan ekspansi gerai 7-Eleven terlalu dini sehingga sebagian besar kebutuhan ekspansi tersebut dibiayai oleh pinjaman. Kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman yang signifikan menggangu modal kerja yang dapat digunakan untuk operasi bisnis 7-Eleven.




Kemudian, pihaknya melihat daya beli masyarakat yang melemah sejak 2015 dan terus berlanjut sampai saat ini. "Pertumbuhan bisnis retail yang melambat juga menjadi salah satu kendala dalam pengembangan bisnis 7-Eleven," sambungnya.

Keadaan tersebut semakin diperparah dengan pelarangan penjualan minuman beralkohol (minol) di gerai-gerai minimarket yang efektif berlaku per April 2015. Pelarangan penjualan minol dianggap mempengaruhi penjualan snack dan cuntectionary.

"Sejak pelarangan itu penurunan penjualan sangat terasa," imbuh Chandra.

Selain itu, persaingan bisnis ritel di bidang convenience store semakin ketat dengan banyaknya pemain baru. Chandra menambahkan, hal ini menjadi salah satu risiko bisnis yang harus dihadapi perseroan.

"Untuk saat ini penghentian operasional bisnis 7-eleven merupakan pilihan terbaik bagi perseroan karena bisnis 7-eleven mengalami kerugian yang signifikan dan terus menerus menggerus modal kerja perseroan," tandasnya.


(AHL)