Cerita Sri Mulyani tentang Sulitnya Turunkan Kemiskinan di Dekade Terakhir

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 18 Oct 2016 08:19 WIB
kemiskinan
Cerita Sri Mulyani tentang Sulitnya Turunkan Kemiskinan di Dekade Terakhir
Menkeu Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan masalah kemiskinan dan kesenjangan masih menjadi tantangan dalam pembangunan Indonesia.

Dalam sharing pengetahuan di acara Supermentor-16, Ani begitu ia disapa mengatakan sebagai negara yang masuk dalam urutan empat terbesar dengan golongan pendapatan menengah, Indonesia telah mampu menurunkan kemiskinan pada level 10,86 persen. Angka tersebut cukup baik.

Namun, tak berhenti di situ, upaya ekstra harus dilakukan Pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan menuju yang lebih rendah. Sayangnya, diakui Ani, hal tersebut tidak lah mudah.

Baca: Butuh Kerja Keras untuk Menurunkan Level Kemiskinan RI

"Namun kecepatan menurunkan orang miskin menjadi sangat lambat pada akhir dekade terakhir," kata Ani di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016) malam.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan sejak krisis ekonomi global yang terjadi pada 1987-1988, ekonomi Indonesia memang tumbuh tinggi dan bisa menurunkan kemiskinan. Namun muncul masalah baru yakni melebarnya kesenjangan antar si kaya dan si miskin.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya dinikmati oleh golongan atas atau dengan kata lain tak merata. Bayangkan, kata Ani, satu persen penduduk berhasil menguasai 50 persen aset negara dan satu persen penduduk bisa mengusasi hampir 90 persen aset dunia.

Baca: Kestabilan Harga Pangan Diklaim Turunkan Angka Kemiskinan

"Ketimpangan makin mendekati angka satu artinya ekonomi hanya dinikmati oleh satu. Ketimpangan Indonesia pada tahun 2000 yakni 0,3 memburuk menjadi 0,41. Namun sedikit menurun di 2016 jadi 0,4," ujar dia.

Ini persoalan yang sangat pelik menurut Ani, yakni bagaimana membuat ekonomi tumbuh tinggi dan bisa menciptakan lapangan kerja, mengatasi kemiskinan, mengurangi kesenjangan. Sehingga tercipta pertumbuhan yang merata terutama untuk menyasar 40 persen rakyat yang berada di golongan ekonomi paling bawah.




"Selama ini, dia bilang, pertumbuhan yang tinggi diciptakan oleh orang-orang yang mempunyai modal, yang di bawah hanya dapat rembesannya saja," tutur Ani.

Untuk memutus tali dan lingkaran kemiskinan antargenerasi, lanjut dia, maka hal yang paling dasar yakni setiap keluarga miskin harus mampu menikmati pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan sanitasi yang notabenenya bukan infrastruktur seksi namun sungguh penting. Saat ini bahkan banyak orang kaya yang hidupnya di lingkungan yang tak sehat.

Itu semua menurut Ani adalah alat pemecah kemiskinan jangka panjang. Sementara jangka pendek yakni melalui kebijakan anggaran seperti pengalokasian anggaran pendidikan 20 persen dan kesehatan lima persen dari total belanja APBN.

"Dulu 10 tahun lalu waktu saya jadi Menkeu, anggaran pendidikan masih sekitar Rp50 triliun-Rp70 triliun. Sekarang sudah Rp400 triliun. Jadi, bagaimana budget negara bisa jadi instrumen untuk pecah kemiskinan dan kesenjangan," jelas dia.


(AHL)