Jual 'Risma', Pemuda Ini Sukses Raup Rp500 Juta/Bulan

Amaluddin    •    Senin, 17 Oct 2016 10:23 WIB
wirausahadunia usaha
Jual 'Risma', Pemuda Ini Sukses Raup Rp500 Juta/Bulan
Ryri HPM saat menunjukkan produk Snack Risma (MTVN/Amaluddin)

Metrotvnews.com, Surabaya: Mendengar nama Risma, semua orang akan tertuju kepada Wali Kota Surabaya. Namun, nama Risma di sini adalah nama sebuah makanan ringan hasil wirausaha seorang pemuda untuk membantu para remaja berkebutuhan khusus baik secara sosial maupun ekonomi.

Dia adalah Ryri HPM, pria asal Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Pemuda usia 35 tahun ini menceritakan semula dirinya merupakan seorang aktivis yang peduli terhadap sosial.

Ia mengaku prihatin dan memiliki keinginan besar untuk menolong orang yang memiliki keterbatasan sosial dan eknomi. Misalnya remaja mantan narapidana, remaja mengidap HIV, pengangguran, dan lainnya. Sehingga ia mendirikan sebuah padepokan yang dinamakan Garuda Muda yang beranggotakan pemuda pemudi serba keterbatasan, mulai usia 20 hingga 27 tahun.

"Sebenarnya itu modal utamanya, saya terinspirasi untuk menolong sesama sehingga saya merintis di bidang wirausaha dalam bentuk makanan ringan," kata Ryri, kepada Metrotvnews.com, saat memamerkan produknya di pameran Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2016 yang ke-8, di Gedung Woloe Pasuruan, Jawa Timur, seperti diberitakan Senin (17/10/2016).

Baca: Wirausaha Muda Mandiri 2016 Bidik Pengusaha Fintech

Ryri mendirikan Garuda Muda pada 2012. Kala itu hanya beranggotakan enam orang remaja dengan keterbatasan sosial. Ryri pun mulai berpikir untuk berwirausaha bersama keenam remaja tersebut. Ide pun muncul, yakni berwirausaha makanan ringan alias cemilan.

"Kenapa saya membuat makanan ringan? Karena bagi saya hanya membuat makanan berwirausaha yang paling mudah dan cepat, tidak perlu keahlian khusus untuk itu," kata pria kelahiran Ponorogo, Jawa Timur itu.

Setelah mendapat ide membuat makanan ringan, Ryri kembali berpikir mencari nama untuk dijadikan merek makanan ringan tersebut. Saat itu yang terlintas dalam benaknya, kata Ryri, nama Risma. Filosofi nama Risma itu artinya adalah Laris Manis.

Baca: Ciptakan Wirausaha Baru, Sampoerna Gelar Pameran UMKM

"Sebenarnya nama Risma itu merupakan bagian dari doa. Justru nama Risma itu saya pakai buat merek sebelum Wali Kota Surabaya terkenal. Saya juga tidak kenal dengan beliau (Risma)," jelasnya.

Saat itu, Ryri mengaku hanya punya modal Rp10 juta. Ia nekat. Enam orang pemuda yang memiliki keterbatasan sosial direkrut sebagai pekerja. Ryri menggaji enam orang pekerjanya masing sebesar Rp800 ribu per bulan.

Dengan modal tersebut, kata Ryri, pihaknya mampu memproduksi makanan ringan dengan merek 'Risma Snack' sebanyak 1.300 bungkus per hari. "Modal awal itu habis untuk biaya produksi dan gaji para pekerja. Awalnya semua alat-alat kami pinjam, seperti kompor, penggorengan, dan hanya tabung gas yang beli," katanya.

Ryri mulai coba-coba membuat makanan ringan tersebut pada sekitar awal 2013. Bahannya meliputi mi lidi mentah, diolah dengan minyak kemasan berlabel halal, serta pewarna. Ia pun mulai mengolah dari sisi rasa, pewarna, bentuk dan lainnya ia coba olah sedemikian rupa.


Ryri HPM saat menunjukkan produk Snack Risma (MTVN/Amaluddin)

Produk makanan ringan yang hanya dibungkus dalam kemasan mulai diedarkan ke kantin sekolah, dan kampus-kampus di Jawa Barat. Perkembangan usaha yang ia rintis terbilang lancar dan sangat menjanjikan. Siapa sangka, usaha makanan ringan sukses membawa Ryri dengan omzet ratusan juta per bulan. "Omzet pada dua bulan pertama sekitar pertengahan 2013 sebesar Rp200 juta. Saya tidak menyangka omzetnya bisa sampai segitu besar," katanya kaget.

Kemudian pada akhir 2013, Ryri pun mulai serius mengembangkan usaha makanan ringan tersebut. Secara perlahan ia mulai menggerakkan relasi yang ia miliki, di antaranya memasarkan produknya ke koperasi, dan kantin instansi di Jawa Barat.

Pada 2014, Ryri memasarkan produk Snack Risma di acara Car Free Day di Jabar, juga mulai ikut pameran di stand pasar malam di Jabar. Saat itu Garuda Muda mampu memproduksi sekitar 6.000 pick per hari, naik menjadi sekitar 9.000 pick per hari pada 2015.

Baca: Finalis Wirausaha Muda Mandiri Berpeluang Raih Pinjaman KUR

"Selain ke kantin dan koperasi. Saya juga mulai bekerja sama dengan perusahaan roti dan instansi di Jabodetabek untuk memasarkan produk makanan ringan itu (Snack Risma) pada 2015," ujarnya.

Saat ini, lanjut Ryri, usaha Snack Risma terus berkembang. Ada sekitar 18 orang dengan latar belakang keterbatasan direkrut sebagai pekerja tetap, dan sekitar 20 orang sebagai pekerja borongan sebagai pelipat bungkus makanan.

Selain itu, kini pihaknya mampu memproduksi Snack Risma mencapai sekitar 15.000 pick per hari. Makanan ringan yang dibandrol dengan harga Rp2.000 per bungkus itu sudah dijual ke beberapa daerah di Indonesia. Di antaranya Jabodetabek, Jambi, Jogja, Solo, dan lainnya. Ia memasarkan juga melalui media sosial seperti facebook, dan jualan online lainnya. "Dengan Snack Risma ini, omzet mencapai sebesar Rp450 juta hingga Rp500 juta per bulan," ucapnya.


Ryri HPM saat menunjukkan produk Snack Risma (MTVN/Amaluddin)

Kini, Ryri mengaku terus mengembangkan usaha Snack Risma ke berbagai daerah. Namun, kata dia, ada kendala yang dihadapinya. Misalnya, belum punya mobil untuk antar barang ke daerah-daerah seperti Jogja, Solo, dan Jambi.

"Jadi untuk sementara, orderan seperti ke Jambi, Jogja dan lainnya kami kirim via online sistem paket. Sementara untuk yang Jabodetabek kami titipkan ke mobil perusahaan pengantar barang," tuturnya.

Padepokan Garuda Muda adalah sebuah komunitas remaja dan pemuda di Bekasi yang memiliki visi peduli manusia dan lingkungan. Padepokan ini menciptakan solusi ekonomi baru untuk kalangan anak muda melalui wirausaha mandiri.

Baca: Indonesia Butuh 25 Juta Pengusaha Bersaing di Era Global

Padepokan yang berdiri sejak 2012 ini memiliki tiga sub bidang usaha yaitu, usaha pengolahan limbah produktif seperti radio dari bahan bambu, usaha makanan ringan dan usaha sablon dan pakaian. Melalui wirausaha, Garuda Muda menanamkan sikap pantang menyerah menembus keterbatasan dengan cara berpikir positif, mencari solusi setiap permasalahan.

 


(ABD)