Produksi Sagu NSP 50% Diekspor

Ade Hapsari Lestarini    •    Senin, 20 Feb 2017 20:13 WIB
perkebunan
Produksi Sagu NSP 50% Diekspor
Pabrik NSP. ANTARA FOTO/FB Anggoro.

Metrotvnews.com, Jakarta: Produk pati sagu olahan PT National Sago Prima (NSP), sekitar 50 persen selama ini diperuntukkan untuk pasar ekspor ke beberapa negara di luar negeri.

"Hingga per September 2016, volume penjualan Prima Starch sebagai merek dagang kami mencapai 4.350 ton dan sekitar 50 persen untuk pasar ekspor," kata General Manager PT NSP,  Harry Susanto melalui keterangan resminya di Jakarta, Senin 20 Februari 2017.

PT NSP adalah salah satu perusahaan hutan tanaman industri (HTI) bukan kayu yang bergerak di bidang budidaya dan pengolahan sagu. Penegasan itu terkait dengan prestasi PT NSP meraih Penilaian Program Peningkatan Kinerja Perusahaan (Proper) peringkat Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) beberapa waktu lalu.

Menurut Harry,  produksi sebesar itu diperoleh dari lahan sagu perseroan yang berada di Kepulauan Meranti dengan luas sekitar 3.707,84 kilometer persegi dan terletak di pesisir timur Pulau Sumatera.

"Produksi penjualan hingga September 2016 itu jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya jauh lebih baik karena pada periode itu mencapai 2.768 ton," katanya.

Ia mengaku, untuk data kinerja penjualan hingga triwulan keempat tahun lalu, belum bisa disampaikan karena masih dalam proses audit.

Menyinggung target perseroan tahun ini, Harry menegaskan tak ada rencana ekspansi di lahan tertanam karena manajemen telah mengalokasikan dan menambah 40 persen dari lahan total konsesi sebagai area konservasi.

Oleh karena itu, lanjut Harry, fokus perseroan pada 2017 adalah meningkatkan produksi Prima Starch di lahan HTI Kepulauan Riau dan meningkatkan kegiatan operasional di Papua lebih intensif.

Terkait dengan perolehan penghargaan Proper, Harry Susanto mengungkapkan sudah sewajarnya jika perusahaan taat pada peraturan terkait pengelolaan lingkungan. Namun bagi NSP sebagai perusahaan di bidang HTI, katanya,  penghargaan ini memiliki arti penting bagi perusahaan, karyawan dan lingkungan masyarakat sekitar.

Hal itu karena NSP merupakan satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang HTI sagu yang mendapatkan penghargaan Proper di Indonesia.

Terlebih lagi, tambah Harry,  dari total 30 perusahaan yang mengikuti penilaian Proper Gambut, NSP dinyatakan sebagai salah satu dari tiga perusahaan yang menyampaikan data terlengkap dalam persyaratan administrasi.



(SAW)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

5 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA