BNI Mulai Bidik Pembiayaan ke Sektor Perdagangan hingga Hotel

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 08 Nov 2017 17:50 WIB
daya beli masyarakat
BNI Mulai Bidik Pembiayaan ke Sektor Perdagangan hingga Hotel
Direktur Bisnis Menengah BNI, Putrama Wahju Setiawan, saat ditemui bincang-bincang santai bersama wartawan di kantor pusat BNI, Jakarta, Rabu 8 November 2017. MTVN/DIan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Daya beli masyarakat mulai teralihkan, dari berbelanja ke konsumsi traveling. Keadaan itu membuat PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk (BBNI) sedang membidik pembiayaan ke sektor perdagangan, restoran hingga perhotelan.

"Ada pergeseran pola konsumsi, mungkin ritel sedang tertekan dan bergeser ke leisure dan kami coba memahami itu," ucap Direktur Bisnis Menengah BNI, Putrama Wahju Setiawan, saat ditemui bincang-bincang santai bersama wartawan di kantor pusat BNI, Jakarta, Rabu 8 November 2017.

Adanya pergeseran pola konsumsi, menurut Putrama, membuat perbankan harus membidik sektor tersebut agar dapat menjadi sarana pembiayaan maupun refinancing bagi segmen perdagangan, restoran, hingga hotel yang saat ini sedang berkembang.

"Jadi inilah yang mendasari kami masuk ke ekonomi leisure. Dari sisi pembiayaan menengah masih lebih banyak di sektor ekonomi perdagangan, hotel dan restoran, hotel kami cukup banyak, dengan syarat kami tidak membiayai dari awal, yang artinya hotel sudah berdiri dan sudah ada pendapatan, jadi kami refinancing," ungkap Putrama.

Pembiayaan segmen menengah sendiri, lanjut dia, masih memiliki rasio kredit macet di kisaran tiga persen dan ditargetkan akan menurun hingga di bawah tiga persen di akhir tahun ini.‎‎ 

"Alhamdulillah untuk segmen menengah rasio Non Performing Loan (NPL) bisa kami managed di kisaran tiga persen dan diakhir Desember bisa di bawah tiga persen," tutur Putrama.

BNI telah menyalurkan kredit sebesar Rp421,41 triliun di kuartal III-2017, atau tumbuh 13,3 persen dibanding realisasi kredit di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp372,02 triliun. Realisasi kredit tersebut jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kredit di industri yang mencapai 8,2 persen per Juli 2017.

Ada beberapa strategi yang dilakukan manajemen BNI untuk mendorong pertumbuhan kredit. Pertama, menggali potensi pasar pembiayaan BUMN dengan fokus pada proyek infrastruktur dan sektor industri yang memiliki risiko rendah dan terkontrol.

Kedua, mengoptimalkan jaringan dan outlet untuk mampu menggarap potensi pasar yang ada. Ketiga, menggali potensi supply chain debitur korporasi untuk menangkap potensi debitur baru.

‎Penyaluran kredit BNI ke sektor business banking menjadi yang utama dengan komposisi 78,3 persen dari total kredit atau sebesar Rp329,75 triliun. Pada sektor business banking ini, kredit BNI disalurkan ke segmen korporasi ssebesar 23,6 persen dari total kredit, kredit BUMN sebesar 19,4 persen, lalu ke segmen menengah sebesar 16,1 persen, dan segmen kecil sebesar 12,8 persen.


(SAW)