Pertumbuhan Kredit Perbankan Baru di Kisaran 4%

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 10 Nov 2017 18:04 WIB
kredit
Pertumbuhan Kredit Perbankan Baru di Kisaran 4%
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. (FOTO: ANTARA/Sigid Kurniawan)

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit sepanjang Januari hingga saat ini (year to date) baru mencapai di kisaran 3,8-4 persen. Sementara jika dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama (year on year) sudah tumbuh 7,86 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan masih rendahnya serapan kredit karena salah satunya perbankan yang melakukan konsolidasi. Saat ini, kata dia, konsolidasi mulai menunjukkan hasil, hal itu terlihat dari kredit macet (non performing loan/NPL) yang menurun dari posisi tiga persen lebih ke 2,93 persen dan sekarang 1,23 persen.

Lagi pula, tutur Heru, biasanya di kuartal-kuartal akhir, pertumbuhannya akan meningkat sehingga hingga akhir tahun pertumbuhannya ditargetkan 10 persen.

"Biasanya di akhir tahun akan ada realisasi kredit yang besar," kata Heru di kantor pusat OJK, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat 10 November 2017.

Sementara itu, Ketua DK OJK Wimboh Santoso menambahkan, kredit yang tumbuhnya masih lambat adalah kategori kredit komersial atau kredit segmen menengah dengan jumlah Rp200 miliar hingga Rp900 miliar.

Baca: BI Prediksi Pertumbuhan Kredit Capai 11% di 2017

Wimboh mengungkapkan, nasabah di segmen tersebut masih dalam proses restrukturisasi akibat terkena imbas penurunan harga komoditas. Namun, saat ini, karena harga komoditas sudah mulai bangkit, dan ditunjukkan dengan mengecilnya NPL. Sedangkan untuk kredit pada kategori mikro retail dan koorporasi tercatat masih mengalami peningkatan.

Retail yang mengalami peningkatan, ujar Wimboh, seharusnya menunjukkan demand atau permintaan yang bagus. Terkait banyaknya outlet yang tutup, padahal kreditnya tumbuh, dia bilang karena sekarang masyarakat jika membeli tidak harus datang ke outlet.

"Pakai internet kan bisa beli apa saja. Inilah yang memotong jalur distribusi," ujar Wimboh.

Lebih jauh dirinya menambahkan, sebenarnya digitalisasi merupakan hal yang baik karena dengan terpotongnya rantai distribusi, maka masyarakat diuntungkan dengan harga yang lebih murah, sebab biaya distribusi menurun.

"Tapi memang jalur distribusi inilah yang kehilangan aktivitas dan marginnya hilang, ini barangkali salah satu penyebabnya," tandas Wimboh.

 


(AHL)