Pengamat: Ada Keanehan pada Kenaikan Tiket Pesawat

   •    Jumat, 18 Jan 2019 07:49 WIB
pesawat
Pengamat: Ada Keanehan pada Kenaikan Tiket Pesawat
Ilustrasi. Foto: Antara/Eric Ireng

Jakarta: Pengamat penerbangan Alvin Lie melihat fenomena kenaikan harga tiket pesawat menunjukkan keanehan. Pasalnya, selain di saat harga Avtur yang turun cukup siginifikan, kenaikan juga terjadi saat nilai tukar rupiah sedang menguat. 

“Ini anomali. Biasanya selang beberapa pekan setelah Avtur turun, harga juga turun. Kecuali kalau rupiah nyungsep, itu beda,” kata Alvin, melalui keterangan tertulis, Jumat, 18 Januari 2019.

Ia mencermati harga avtur Pertamina sudah turun 16 persen sejak November 2018. Sejak Oktober 2018, Alvin mencatat, maskapai Garuda Indonesia selalu memasang harga tertinggi di batas atas. “Nah, karena Garuda menjual harga tertinggi, maskapai lain juga ikut menaikkan. Padahal, kalau saja Garuda tidak naik, maka yang lain juga tidak berani menaikkan,” kata dia. 

Alvin menyoroti Garuda sebagai pihak yang dianggap paling bertanggung jawab atas fenomena tingginya harga tiket ini. Menurut dia, BUMN tersebut menyalahi kesepakatan dengan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) dan Menteri Perhubungan. "Sebagai contoh, ketika Lion Grup sudah turun, Garuda dan Citilink belum turun,” lanjut Alvin.

Baca: KPPU Kaji Anomali Harga Tiket Pesawat

Mahalnya harga tiket yang kemudian dikaitkan dengan harga Avtur belakangan memang menjadi sorotan. Melalui INACA, maskapai penerbangan bahkan meminta Pertamina menurunkan harga Avtur. Pertamina sejak November 2018 hingga Januari 2019 sebenarnya sudah beberapa kali menurunkan harga Avtur. Penurunan dalam rentang waktu tersebut sudah mencapai 16 persen. 

Menyikapi permintaan INACA, Menteri BUMN Rini Soemarno menegaskan bahwa harga Avtur yang dijual Pertamina masih kompetitif jika dibandingkan negara lain dan bandara-bandara lain. "Kalaupun sedikit lebih tinggi dibandingkan Singapura, itu disebabkan Singapura memberikan retail spesial. Avtur ini kan hitung-hitungan bisnis," kata Rini. 




(UWA)