BSM Catat NIM Alami Kenaikan di Kuartal II-2017

Angga Bratadharma    •    Kamis, 10 Aug 2017 06:27 WIB
bsm
BSM Catat NIM Alami Kenaikan di Kuartal II-2017
Nasabah bertransaksi di Bank Syariah Mandiri, Jakarta (MI/PANCA SYURKANI)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Syariah Mandiri (BSM) mencatat Net Revenue (NIM) mengalami kenaikan menjadi 7,13 persen di kuartal II-2017. Angka itu mengalami kenaikan sebanyak 0,59 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2016 yang tercatat sebesar 6,54 persen.

Direktur BSM Ade Cahyo Nugroho mengungkapkan, kenaikan NIM yang terjadi di BSM bukan dikarenakan adanya penguatan imbal hasil. Namun, hal itu terjadi lantaran adanya pengendalian cost of fund yang lebih baik dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya.

"Funding tumbuh lebih baik, terutama di CASA dan utamanya di tabungan yang signifikan. NIM naik bukan karena imbal hasil naik tapi lebih ke cost of fund yang terkendali makanya ada kenaikan di NIM," ungkap Ade, dalam sebuah konferensi pers mengenai paparan kinerja kuartal II-2017, di Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017.

Di sisi lain, Ade menambahkan, perolehan laba bersih yang tumbuh hanya delapan persen disebabkan BSM mengambil kebijakan untuk memperkuat cadangan. Memperkuat cadangan menjadi salah satu strategi agar BSM bisa melanjutkan aktivitas bisnis secara berkesinambungan yang berkualitas.

Adapun BSM mencatat laba bersih sebesar Rp181 miliar hingga kuartal II-2017. Perolehan tersebut mengalami pertumbuhan sebanyak delapan persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp167,64 miliar.

"Laba kenapa tumbuh delapan persen? Karena kita mau ada cadangan-cadangan dan memperkuat cadangan agar bisa tumbuh lebih berkesinambungan dulu. Sedangkan untuk Rencana Bisnis Bank (RBB), kami memutuskan ke depan tidak akan melakukan revisi. Kami melihat semester I maka harapannya bisa melampui RBB sampai akhir tahun," ujarnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Direktur BSM Choirul Anwar mengaku, BSM mampu mengendalikan tingkat Non Performing Finance (NPF) di angka yang baik. Pihaknya terus berupaya agar pergerakan NPF tidak liar dan nantinya mampu memberi dukungan terhadap laju bisnis di sepanjang tahun ini.

"Kuncinya adalah pengendalian NPF yang dimulai bukan saat terjadi NPF, tapi saat ada booking. Kita tetapkan apakah pasarnya dalam kondisi yang baik dan sesuai dengan karakter nasabah, termasuk menyesuaikan dengan apa yang dituju dari desain produk, bisnis proses, efisien, dan memastikan akun baru yang di-booking berkualitas baik," pungkasnya.


(ABD)