Ketahanan Pangan Ciptaan Kementan-TNI Diklaim Sudah Membuahkan Hasil

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 14 Sep 2017 20:41 WIB
ketahanan pangan
Ketahanan Pangan Ciptaan Kementan-TNI Diklaim Sudah Membuahkan Hasil
Anggota TNI dari Koramil Ngasem berbaur dengan buruh tani memanen padi di area persawahan Desa Paron, Kediri, Jawa Timur. (Foto: Antara/Prasetia Fauzani).

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) mewujudkan ketahanan pangan mulai menunjukkan hasil positif. Ini terlihat dari nihilnya impor beras, cabai segar, bawang konsumsi hingga pakan ternak sejak tahun kemarin.

"Tidak ada impor berarti kita telah swasembada pada komoditi tersebut. Dan untuk bawang merah, kita kini malah mengekspor," ujar Plt. Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Suwandi dalam keterangannya, Jakarta, Kamis 14 September 2017.

Suwandi menyatakan, kemampuan dalam swasembada dan ekspor tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia mampu mewujudkan visi lumbung pangan dunia pada 2045. Langkah selanjutnya adalah swasembada bawang putih dan gula konsumsi pada 2019, kedelai pada 2020, gula industri pada 2024 dan daging sapi pada 2026.

"Kita sudah berada di jalur yang tepat menuju visi kita saat Indonesia berusia satu abad," terang Suwandi.

(Baca juga: Jokowi: Pangan adalah Soal Hidup dan Matinya Bangsa)

Seiring swasembada tersebut, kesejahteraan petani turut meningkat. Terlihat pada indikator kemiskinan di pedesaan yang turun 4,7 persen dari 17,94 juta jiwa di Maret 2015 menjadi 17,09 juta jiwa pada Maret 2017.

Di sisi lain, Kementan juga terus melaksanakan proses struktural yang menjamin visi lumbung pangan dunia 2045 terwujud. Pertama, mengembangkan industrialisasi berbasis agro berdasarkan keunggulan komparatif.

"Indonesia harus jaya kembali untuk kopi dan rempah-rempah. Integrasi aktivitas hulu-onfarm-hilir dibangun berbasis kawasan berskala ekonomi sehingga diperoleh nilai tambah dan pendapatan penduduk setempat," jelas Suwandi.

Kedua, memperkuat infrastruktur sehingga memperlancar arus distribusi dari desa ke kota, di desa dibangun jalan, irigasi/embung, listrik, telekomunikasi, lembaga keuangan, pasar tani dan lainnya. Ketiga, industrialisasi di pedesaan akan menyerap banyak tenaga kerja, sehingga perlu peningkatan kapasitas SDM menjadi profesional dan produktif.

"SDM setempat dilatih menggunakan alat mesin, perbengkelan, jasa dan lainnya sesuai standar kompetensi," papar Suwandi.

(Baca juga: Produksi Pangan TNI Ikuti Perintah Presiden)

Keempat, keterbatasan jumlah petani diatasi dengan teknologi mekanisasi penambahan alat mesin pertanian (alsintan). Kementan sudah menyediakan 80.000-100.000 unit alsintan setiap tahunnya. 

Dengan teknologi mekanisasi seperti traktor, poma air, rice transplanter, combine harvester dan rice milling unit diyakini terbukti bisa menekan biaya hingga 40 persen, waktu, tenaga dan menurunkan susut hasil 4-8 persen hingga meningkatkan mutu. 

"Teknologi mekanisasi inilah yang membuat generasi muda kini berminat terjun ke pertanian dan pedesaan, dan generasi muda pun merespon positif program Kementerian Desa-PDT kini," pungkas Suwandi.




(HUS)