OJK akan Gelar Seminar Internasional di Bali

   •    Jumat, 14 Apr 2017 14:35 WIB
ojk
OJK akan Gelar Seminar Internasional di Bali
Ilustrasi OJK. (FOTO: ANTARA/Fanny Octavianus)

Metrotvnews.com, Denpasar: Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bali, Nusra Zulmi mengatakan, pihaknya akan menggelar seminar internasional bidang keuangan di Nusa Dua, Bali selama dua hari, 4-5 Mei 2017.

"Kegiatan tersebut melibatkan peserta dari dalam dan luar negeri membahas perilaku ekonomi masyarakat dikaitkan dengan keberadaan industri jasa keuangan," kata Nusra Zulmi, di Denpasar, seperti dikutip dari Antara, Jumat 14 April 2017.

Ia mengatakan, seminar yang menampilkan sejumlah pakar dari luar negeri itu mampu memberikan dampak positif terhadap industri jasa keuangan di Indonesia.

"Panitia sangat berharap kesediaan Gubernur Bali Made Pastika untuk hadir dalam seminar tersebut," ujar Zulmi.

Untuk itu dia bersama Deputi Direktur OJK Regional 8 Rochman Pamungkas dan Dirut BPD Bali I Made Sudja menemui Gubernur Bali Made Mangku Pastika di ruang kerjanya Niti Mandala Renon Denpasar Kamis 13 April.

Dalam pertemuan itu Gubernur Pastika didampingi Karo Perekonomian Setda Provinsi Bali Ir I Nengah Laba, M.Si serta Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi Bali I Dewa Putu Sunartha, SE.M.Si.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam pertemuan itu mendorong OJK melakukan  tindakan tegas terhadap perusahaan yang menawarkan program investasi bodong dengan imbal hasil yang tidak  masuk akal.

Hal itu selain melanggar UU Perbankan, kegiatan ilegal tersebut juga merugikan masyarakat. Menurut Pastika, upaya pembinaan kurang relevan untuk mengatasi keberadaan perusahaan yang berupaya menghimpun dana masyarakat dengan iming-iming menggiurkan.

"Oleh sebab itu harus ada langkah tegas untuk mengatasi persoalan ini agar tidak ada lagi masyarakat yang tertipu tawaran investasi bodong," tegas Pastika.

Sepaham dengan Gubernur Pastika, Kepala OJK Zulmi menaruh perhatian serius terhadap keberadaan lembaga investasi ilegal tersebut.

"Kami terus memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah tertarik dengan iming-iming imbal hasil di luar kewajaran yang biasanya ditawarkan," ujar dia.

Meskipun telah banyak masyarakat yang tertipu, namun nyatanya keberadaan lembaga investasi abal-abal itu masih ada. "Banyak bermunculan dengan pola baru seperti berkedok penjualan produk farmasi atau lainnya sehingga masyarakat awam mudah dikelabui," ujar Zulmi.

Menyikapi hal itu pihaknya membentuk Satgas Waspada Investasi yang bertugas melakukan langkah preventif dan kuratif. Hingga kini OJK mencatat lebih dari 80 perusahaan yang bergerak dalam investasi abal-abal ini.

"Kami berusaha mempersempit ruang gerak mereka dengan terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Bahkan, OJK telah menutup sejumlah perusahaan setelah melakukan penelitian secara intensif," pungkas Zulmi.


(AHL)