Ekonom Sarankan Suku Bunga Acuan Naik 50 Bps

Desi Angriani    •    Selasa, 15 May 2018 13:49 WIB
bank indonesiabi ratesuku bungarepo
Ekonom Sarankan Suku Bunga Acuan Naik 50 Bps
Ekonom Senior Indef Aviliani (MI/ROMMY PUJIANTO)

Jakarta: Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate sebanyak 50 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI mendatang.

Aviliani meyakini kenaikan suku bunga acuan dua kali lipat ini dapat menahan capital outflow dan mengembalikan keperkasaan mata uang Garuda. Tentu instrumen moneter tersebut diambil dengan mempertimbangkan sejumlah hal termasuk melihat situasi dan kondisi dari ekonomi dalam negeri dan global.

"Karena kalau (kenaikan suku bunga acuan hanya) 25 bps itu kita sudah terlambat. Tapi kalau misal 50 bps, paling tidak menahan untuk capital outflow," kata Aviliani, ditemui di Hotel Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018.

Menurutnya kenaikan suku bunga acuan sebanyak 50 bps tidak akan berdampak signifikan terhadap iklim investasi jika pemerintah terus fokus mendorong keberlangsungan investasi.  Misalnya, tax holiday difokuskan bagi perusahaan yang menanamkan modal di sektor padat karya.

"Yang jadi masalah itu bukan suku bunga tapi iklim investasi," imbuhnya.

Terkait cadangan devisa yang semakin terkuras, lanjutnya, bisa ditambal dengan pinjaman bilateral atau mengatur capital outflow. Adapun tercatat capital outflow di pasar modal mencapai Rp11,3 triliun dalam satu bulan terakhir.

"Ini juga mungkin perlu diatur BI supaya orang tidak panik sehingga hanya butuh USD sesuai kebutuhannya saja," pungkas dia.

Sebelumnya, kebijakan bank sentral AS yakni Federal Reserve yang menaikkan tingkat suku bunga acuan pada Maret menjadi salah satu sumber pelemahan nilai tukar rupiah. Akibatnya, pelaku pasar melakukan penyesuaian dan mengubah ekspektasinya terhadap mata uang Garuda hingga kurs menembus Rp14 ribu per USD.

 


(ABD)