OJK Masih Kaji Penerapan Regulasi Insurance Technology

Angga Bratadharma    •    Kamis, 27 Sep 2018 19:27 WIB
asuransiasuransi jiwaasuransi umum
OJK Masih Kaji Penerapan Regulasi <i>Insurance Technology</i>
Ilustrasi OJK (MI/RAMDANI)

Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung penerapan bisnis digital di industri asuransi Indonesia. Diharapkan optimalisasi bisnis digital dapat memacu pertumbuhan bisnis industri asuransi lebih baik lagi di masa mendatang, termasuk memperbesar penetrasi asuransi yang hingga sekarang ini masih belum tumbuh signifikan.

Direktur Pengawas Asuransi OJK Ahmad Nasrullah menilai masih terdapat potensi besar untuk industri asuransi tumbuh tinggi. Bahkan dengan kemunculan insurance technology diharapkan bisa mendorong industri asuransi lebih kompetitif dibandingkan dengan industri jasa keuangan lainnya di Tanah Air.

Namun, ia tidak menampik ada permasalahan apakah insurance technology harus diregulasi oleh OJK atau tidak, seperti halnya yang dilakukan kepada financial technology (fintech). Dalam hal ini, dirinya menegaskan, OJK terus melakukan pembahasan secara mendalam dan mengundang pihak terkait. Langkah ini agar insurance technology tidak tertahan pertumbuhannya.

"Dalam waktu dekat insurance technology apakah perlu diregulasi atau tidak pertanyaannya. Kita mau ini berkembang. Kalau kita keluarkan regulasi maka momentum pertumbuhannya bisa hilang. Kita tidak mau. Bukan karena kita tidak peduli. Kita peduli," ungkapnya, di Jakarta, Kamis, 27 September 2018.

Menurut dia munculnya insurance technology pada dasarnya memunculkan potensi besar untuk industri asuransi tumbuh lebih maksimal, termasuk lebih dikenal oleh masyarakat. Namun sayangnya, dalam Undang-Undang (UU) ITE salah satunya terdapat penyebutan bahwa dokumen itu harus ada yang tertulis.

"Setelah kita diskusi dengan pakar hukum ternyata tetap butuh yang kertas. Bahkan, butuh tanda tangan basah. Padahal di digital itu seharusnya tidak perlu. Tapi, di UU ITE itu harus ada yang diikuti," tuturnya.

Meski demikian, ia mengatakan bukan berarti OJK hanya diam saja melihat kondisi tersebut. OJK menyebut berbahaya jika tidak diawasi karena bisa berpotensi memunculkan risiko di industri jasa keuangan, terutama industri asuransi. Adapun OJK berada pada posisi untuk terus mendukung industri jasa keuangan tumbuh seiring mitigasi risiko yang lebih baik lagi.

"Jadi kita tidak hanya melindungi konsumen saja, tapi kita juga melindungi pelaku industri. Kita dorong perusahaan asuransi untuk melakukan bisnis digital, tapi beri kami waktu apakah insurance technology perlu diatur atau tetap seperti ini," pungkasnya.


(ABD)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA