HUT ke-60

Semen Padang Hadapi Banyak Tantangan

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 07 Jul 2018 07:03 WIB
semen padang
Semen Padang Hadapi Banyak Tantangan
Ilustrasi Semen Padang. (FOTO: MI)

Jakarta: PT Semen Padang menginjak 60 tahun pada 5 Juli 2018 setelah diambil alih dari tangan pemerintah Belanda. Pada 18 Maret 1958 Semen Padang yang dulu bernama NV Padang Portland Cement Maatschappij (PPCM), secara resmi diserahkan kepada bangsa Indonesia. Penyerahan itu sebagai amanat Undang Undang Nomor 86 Tahun 1958 tentang Nasionalisasi.

Penyerahan PPCM dilakukan oleh Hooffadministrateur PPCM Ir Van der Land kepada J Sadiman yang bertindak atas nama Direktur Badan Penyelenggara Perusahaan Industri Dasar dan Tambang) Kementerian Perindustrian Dasar dan Tambang. Sejak itu, perusahaan-perusahaan strategis bangsa dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa.

Memasuki HUT ke-60 nasionalisasi, PT Semen Padang menghadapi banyak tantangan. Ketangguhan perusahaan yang didirikan pada 18 Maret 1910 atau kini berusia 108 tahun ini kembali diuji untuk melewati berbagai dinamika dalam kancah persemenan dan industri nasional.

Seperti diakui Direktur Utama PT Semen Padang Yosviandri, tantangan dihadapi tahun ini di antaranya, over supply dimana rata-rata produksi semen hanya terserap sekitar 66 persen. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung sampai dengan 10 tahun ke depan. Produsen asing khususnya semen Tiongkok semakin gencar memasuki pasar dalam negeri. Kemudian, perusahaan nasional juga dihadapkan dengan tantangan baru denga keluarnya kebijakan Permendag 07 tahun 2018 tentang diperbolehkannya impor klinker dan semen ke Indonesia. Dalam pada itu, harga pokok semakin meningkat dengan naiknya harga BBM dan batu bara dunia.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar juga melemah dan  berdampak pada tingginya harga sparepart, persediaan, dan peralatan impor. "Dampak yang paling kami rasakan saat ini adalah turunnya laba perusahaan dalam lima tahun terakhir," kata Yosviandri.

Pada 2012 Semen Padang mencatatkan laba bersih sebesar Rp927,69 miliar, pada 2013 meningkat menjadi Rp1,04 triliun. Pada 2014 turun menjadi Rp927,61 miliar. Pada 2015 turun menjadi Rp722,83 miliar. Pada 2016 sedikit naik menjadi Rp723,80 miliar. Sedangkan pada 2017 turun menjadi Rp498,76 miliar.

Pada 2013 menjadi masa keemasan bagi industri semen nasional. Pada saat itu hanya ada tujuh pemain semen di tingkat nasional. Kini menjadi 15 pemain, tak hanya dari pemodal dalam negeri, namun juga perusahaan semen top dunia. Para pemain baru itu juga meningkatkan kapasitas produksi. Di sisi lain, permintaan nasional tidak bertumbuh positif seperti yang diharapkan.

Kondisi ini diperparah kenaikan harga pokok produksi. Ketika terjadi perang harga di pasaran, sejumlah pemain ada yang memilih menurunkan harga, dan bahkan ada pula yang me-lay off karyawan. Yosviandri mengakui perjalanan PT Semen Padang sebagai perusahaan semen pertama di Asia Tenggara yang telah berusia lebih dari satu abad tentunya tidak selalu melalui jalan yang mulus. Dinamika yang terjadi dari internal maupun eksternal turut mewarnai.

"Kami berharap di 2018 pencapaian laba bersih bisa meningkat di atas 2017," kata Yosviandri yang menakhodai Semen Padang sejak 24 Januari 2018, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 6 Juli 2018.

Berbagai strategi dipancang manajemen baru Semen Padang bersama segenap insan perusahaan untuk kembali membangkitkan perusahaan yang berpusat di Indarung, Kota Padang ini. "Upaya-upaya efisiensi yang kita lakukan menjadi harapan utama terdongkraknya kinerja keuangan. Namun untuk bisa kembali memenangkan persaingan tidak cukup hanya berhemat. Perlu muncul ide-ide kreatif untuk meningkatkan pendapatan perusahaan dengan mengoptimalkan aset-aset perusahaan," kata pria kelahiran Padang di 1968 itu.

Di internal perusahaan, Yosviandri mendorong jajarannya untuk terus melakukan berbagai inovasi. "Diskusi-diskusi yang bermuara pada pengumpulan inovasi-inovasi sangat kami dukung. Manfaatkan segala fasilitas yang disediakan perusahaan. Silahkan menggunakan rumah knowledge sebagai homebase terciptanya ide-ide kreatif yang dikoordinir oleh biro inovasi," ajaknya kepada seluruh karyawan Semen Padang pada Upacara HUT ke-60 pengambilalihan perusahaan.

Masa Lalu Lebih Berat

Pemerhati sejarah Sumbar yang kini menjabat Komisaris PT Semen Padang Khairul Jasmi mengakui Semen Padang menghadapi tantangan yang tidak ringan hingga 10 tahun mendatang. Namun wartawan senior itu menekankan, sebenarnya tantangan yang sudah dilewati Semen Padang jauh lebih berat. Misalnya, saat perusahaan ini nyaris dilego menjadi besi tua ke Perusahaan Prancis, Ciccofrance 1968.

Dia berkisah pada awal 1968, ketika Semen Padang dipimpin Direktur Utama, Ir KA Mat Tjik, berhembus kabar bahwa perusahaan kebanggaan orang Minang ini akan dijual menjadi besi tua ke perusahaan asing. KA Mat Tjik pada saat itu mengatakan bahwa pemerintah sudah membuat draf kerja sama dengan perusahaan dari Prancis yang akan membeli 50 persen saham PN Semen Padang. Setelah itu, pabrik ini tentu akan dikendalikan orang asing atau akan dilego saja sebagai besi tua. Ketika informasi itu dilontarkan, maka guncanglah pabrik tua itu.

Alasan untuk menjual Semen Padang pada saat itu karena besi-besi tua tersebut tidak produktif lagi. Hanya membuang-buang masa. Karena itu, lebih baik dilego saja menjadi uang. Informasi itu akhirnya sampai ke telinga Gubernur Harun Zain dan dia mamburansang (marah besar).  Alasannya, dia mau pulang Sumbar adalah untuk membangun kampung halaman. Tanah kelahirannya sudah porak poranda usai perang saudara. Ia  berang, asset satu-satunya kebanggaan daerah yang ada di Sumatera Barat, dan dibutuhkan untuk menunjang program pembangunan, mau dilego orang.

Mendengar kabar itu, Harun memanggil Mat Tjik ke Kantor Gubernur. Mat Tjik menyampaikan berbagai argumen bahwa Semen Padang bukan akan dijual, tetapi hanya kerjasama dengan perusahaan dari Prancis. Namun Gubernur Harun Zain pada saat itu tidak percaya dengan segenap alasan yang dikemukakan Mat Tjik. Beliau berjuang ke Jakarta agar Semen Padang tidak jadi dijual. Harun menghadap Menteri Perindustrian Jenderal M Jusuf. Sekuat tenaga dia meyakinkan M Jusuf agar rencana penjualan Semen Padang dibatalkan.

Menteri Perindustrian Jenderal M Jusuf pada saat itu menjelaskan, Semen Padang bukan dijual. Tetapi dikerjasamakan dengan perusahaan dari Prancis. Pemerintah sudah membuat dasar kerja sama di mana 50 persen saham akan dimiliki oleh perusahaan asing. Setelah beragumen, akhirnya Harun Zain berhasil meyakinkan Menteri Jusuf agar Semen Padang tidak dijual. Namun sang menteri memberi syarat, rencana penjualan bisa dibatalkan manakala Harun Zain bisa mengubah besi tua itu menjadi sesuatu yang berguna. Menteri juga meminta agar mencari orang yang mampu mengelola dan menjalankan pabrik itu.

Produksi semen pun meningkat, permintaan pasar juga meningkat. Perusahaan juga mendapat dukungan dari masyarakat Lubukkilangan yang bersedia menyerahkan tanah ulayat seluas 126,3 hektare (ha) untuk perluasan perusahaan dan peningkatan produksi dari 120 ribu ton menjadi 220 ribu ton setahun.


(AHL)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

1 hour Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA