Peningkatan Produksi Dalam Negeri Bikin Impor September Turun

Suci Sedya Utami    •    Senin, 17 Oct 2016 18:10 WIB
impor
Peningkatan Produksi Dalam Negeri Bikin Impor September Turun
Ilustrasi. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.

Metrotvnews.com, Jakarta: Nilai impor Indonesia pada September 2016 tercatat mengalami penurunan 8,78 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai USD11,3 miliar. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto  mengatakan penurunan impor lebih tajam dibandingkan dengan penurunan ekspor yang mengalami penurunan bulanan sebesar 1,84 persen.

"Penurunan impor terbesar yakni mesin dan peralatan mekanik sebesar USD98,9 juta," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016).

Disusul dengan penurunan impor kendaraan dan bagiannya sebesar USD95,5 juta, pupuk USD80 juta, mesin dan peralatan mekanik USD77,5 juta serta biji-bijian berminyak USD76,5 juta.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan penurunan impor diakibatkan karena meningkatnya produksi nasional sehingga kebutuhan di dalam negeri bisa dipenuhi tanpa harus impor.

Malah, menurutnya, meningkatnya produksi membuat adanya kenaikan ekspor beberapa jenis barang seperi besi dan baja yang meningkat sebesar USD94,3 juta.

"Ekspor besi baja naik artinya produksinya besar otomatis impor turun. Produk pipa, saya perkirakan juga misal baja ringan sudah kita ekspir ke luar dan besar. Makannya September bagus," tutur Sasmito.

Sementara itu, secara kumulatif, impor Januari-September tercatat sebesar USD98,69 miliar atau turun 8,61 persen dibanding periode yag sama tahun lalu sebesar USD107,99 miliar. Impor non migasnya turun 4,10 persen dari USD88,58 miliar menjadi USD84,95 miliar.

Lebih jauh berdasarkan pangsa pasarnya, impor nonmigas paling besar berasal dari Tiongkok dengan nilai USD21,99 miliar atau share-nya 25,88 persen, disusul dari Jepang USD9,48 miliar atau 11,16 persen, dan Thailan USD6,64 miliar atau 7,82 persen. Sedangkan impor dari Asean sebesar USD18,53 miliar atau 21,82 persen dan Eropa USD7,79 miliar atau 9,17 persen.


(SAW)