Swasembada Kedelai Diyakini Segera Terwujud

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 02 Dec 2017 13:32 WIB
kedelai
Swasembada Kedelai Diyakini Segera Terwujud
Swasembada Kedelai Diyakini Segera Terwujud. (FOTO: dokumentasi Kementan)

Jakarta: Museum Rekor Indonesia (Muri) menganugerahkan rekor Muri kepada Kabupaten Grobogan yang mampu membuat tempe raksasa.

Produk olehan kedelai ini yang tercatat dalam rekor MURI sendiri berukuran 7 meter x 10 meter atau luas 70 meter persegi dengan tebal 4 centimeter. Bahan dasar pembuatan tempe raksasa ini didapat dari varietas kedelai lokal.

Kabupaten Grobogan telah memiliki varitas lokal yang dinamai sesuai nama kabupatennya yakni kedelai Grobogan. Dengan pencapaian ini, potensi kedelai lokal Indonesia sangat besar tidak kalah dengan kedelai impor.

Di tambah lagi, Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya merealisasikan grand design menuju Lumbung Pangan Dunia 2045. Dalam grand design tersebut telah ditetapkan 11 komoditas strategis yang menjadi prioritas. Satu di antara sebelas komoditas strategis tersebut yang menjadi fokus saat ini adalah kedelai.

Dirjen Tanaman Pangan Kementan Sumarjo Gatot Irianto menegaskan Kabupaten Grobogan memiliki potensi kedelai yang luar biasa. Tahun depan, Kabupaten Grobogan sendiri ditargetkan memiliki areal tanam kedelai seluas 100 ribu hektare (ha).

Gatot menyatakan terjadi peningkatan yang signifikan yakni lima kali lipat dari yang sebelumnya hanya 20 ribu ha menjadi 100 ribu ha. Dia menekankan pengembangan produk kedelai tidak bertumpu hanya nilai jual komoditas itu sendiri tapi merek dari produk olahan kedelai, dengan begitu secara tidak langsung diharapkan akan meningkatkan produksi kedelai serta peningkatan nilai tambah yang didapat dari produk olehan kedelai.

"Yang kita mau kedelai ini jadi produk olehan yang punya brand, bukan (hanya) komoditas, bagi saya branding jauh lebih strategis, karena apa, mengangkat harkat pendapatan petani, begitu harganya baik itu flow produksi akan mengalir," tegas Gatot, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 2 Desember 2017.




Keberadaan kedelai Grobogan ini sesungguhnya menjadi daya tarik tersendiri. Gatot kembali mengingatkan pentingya branding olahan kedelai dan niatnya untuk mengangkatnya dari level  lokal menjadi level nasional.

"Brand ini harus kita tumbuhkan, ini dari brand lokal kabupaten saya ingin (kedelai) jadi brand nasional, brand nasional itu barangnya harus ada di tingkat nasional, saya sudah usul pak Gubernur sidang kabinetnya entah sebulan atau dua bulan sekali, makanan produk olahan kedelai dari Grobogan," ungkap Gatot sambil menyapa Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

"Tadi pak Gubernur sudah sepakat, di Grobogan main (kampanye kedelai), di provinsi main, di pusat pemerintahan juga," tambahnya.

Niatan Kementan untuk membuat branding kedelai yang dikemas dalam bentuk olahan disambut baik oleh Ganjar Pranowi. Ganjar juga memiliki pemikiran yang sama untuk meningkatkan nilai tambah kedelai menjadi beberapa produk olahan seperti tempe, tahu, spring roll, hingga bolu.

"Kedelai Grobogan kudhu mendunia. Sing iki bolu, bolu (ini) bahane seko kedele," tambahnya yang memberikan sambutan dalam bahasa Jawa.

Produk olahan kedelai pada hakikatnya sangat beragam, tinggal bagaimana pengemasan produk tersebut agar mampu menarik minat masyarakat serta meningkatkan nilai jual.

Sejauh ini padi, jagung, bawang merah, serta cabai mampu digdaya di negeri sendiri. Artinya, swasembada untuk komoditas tersebut sudah tercapai. Diperkirakan kedelai mampu menyusul berikutnya di 2018 atau selambatnya-lambatnya di 2019.

Kerja cepat diterapkan, peningkatan luas tanam, peningkatan produktivitas serta yang paling utama branding produk olahan kedelai agar mampu ikut mengangkat produksi serta yang utama kesejahteraan para petani kedelai juga meningkat.

Untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri sekitar 2,8 juta ton, Kementan membuat skema tanam kedelai dengan total lahan berkisar 2,3 juta hektare dan diperkirakan mampu panen dikisaran 3,2 juta ton. Dengan skema tersebut diharapkan Indonesia mampu swasembada kedelai.


(AHL)