Fonterra Bangun Pabrik Senilai Rp357 Miliar

   •    Rabu, 26 Mar 2014 16:53 WIB
pabrik
Fonterra Bangun Pabrik Senilai Rp357 Miliar

Metrotvnews.com, Jakarta: Fonterra memulai pembangunan pabrik pengolahan dan pengemasan pertamanya di Indonesia yang berlokasi di Kawasan Industri Terpadu Indonesia China (KITIC) di Cikarang, Jawa Barat.

Pabrik ini merupakan investasi terbesar Fonterra di kawaasan ASEAN selama satu dekade terakhir.

Managing Director of Fonterra Asia Pacific, Middle East and Africa Pascal De Petrini mengatakan, Fonterra Brands manufacturing Indonesia Cikarang Plant yang menempati lahan seluas 6.500 meter persegi akan memudahkan pihaknya untuk memenuhi peningkatak kebutuhan produk susu di Indonesia.

"Permintaan akan produk susu di Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2020. Investasi ini akan membantu kami untuk memenuhi peningkatan kebutuhan tersebut," ujar Pascal di Jakarta, Rabu (26/3).

Pabrik yang diproyeksikan mulai beroperasi pada Maret 2015 ini dapat mengakomodir pengolahan dan pengemasan 12 ribu ton produk susu bubuk yang setara dengan 87 ribu kemasan Anlene, Anmum, Anchor, dan Boneeto setiap hari.

Pascal mengatakan, produksi tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik yang dproyeksikan terus meningkat. Catatan Fonterra tingkat konsumsi susu di Indonesia baru mencapai angka 11 liter per kapita, cukup rendah dibandingkan Singapura yang mencapai 51 liter per kapita.

Namun, Indonesia memiliki populasi yang cukup besar dan terus berkembang dengan estimasi 2,5 juta anak lahir setiap tahun.

Catatan Kemenperin, tingkat konsumsi di Filipina mencapai 22 kg/kapita, Malaysia 20kg/kapita, dan Thailand 33 kg/kapita. Hal ini menunjukkan bahwa masih besar potensi yang belum terealisasi bagi industri pengolahan susu di Indonesia.

"Kita fokus untuk domestik. Indonesia membutuhkan konsumsi yang lebih dan meningkat cepat," tuturnya.

Lebih lanjut, Pascal mengungkapkan, pihaknya akan mengimpor bahan baku susu dari Selandia Baru. Dan, produk susu yang dihasilkan belum akan diekspor meningat permintaan domestik yang tumbuh cepat.

"Kita belum menyerap pasokan susu dari petani sapi lokal tapi kita membawa pengetahuan teknologi. Kita juga punya pilot project, memberikan beasiswa ke lokal farmer," tuturnya.

Direktur Jenderal Industri Agri Panggah Susanto mengungkapkan, pertumbuhan sektor industri pengolahan susu pada 2013 sebesar 12%. meningkat dibandingkan tahuns ebelumnya yang sebesar 10%. Namun, kontribusi pasokan bahan baku susu segar dari dalam negri belum signifikan.

"Kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN) untuk susu olahan dalam negeri sekitar 3,3 juta ton per tahun dengan pasokan bahan baku susu segar dalam negeri 690 ribu ton pertahun atau sekitar 21%," katanya.

Sisanya, Panggah melanjutkan, sekitar 2,61 juta ton atau sebsar 79% masih harus diimpor dalam bentuk skim milk powder, anhydorus milk fat, dan butter milk powder dari berbagai negara. Di antaranya Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

"Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagu usaha peternakan sapi perah dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar yang berdaya saing. Sehingga secara bertahap kebutuhan bahan baku susu untuk idnustri dapat dipenuhi dari dalam negeri," tuturnya. (Anshar Dwi Wibowo)


(ADF)