Pakar: Lindung Nilai Dorong Pertumbuhan Ekonomi

   •    Minggu, 23 Nov 2014 09:27 WIB
Pakar: Lindung Nilai Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi. Antara/Rony Muharrman

Metrotvnews.com, Jakarta: Pakar perdagangan valuta asing asal Singapura Mario Singh menilai, Indonesia perlu segera mengimplementasikan lindung nilai untuk mengendalikan risiko nilai tukar mata uang sehingga akan lebih mudah mencapai target pertumbuhan ekonomi tujuh persen. "Pencapaian target pertumbuhan ekonomi tujuh persen akan lebih mudah dengan pengendalian currency risk akibat fluktuasi mata uang asing melalui hedging," kata Mario Singh di Jakarta, seperti dikutip Minggu (23/11/2014).

Menurut dia, lindung nilai (hedging) penting dilakukan untuk memitigasi dampak kemungkinan pergolakan ekonomi dunia serta menjaga stabilitas mata uang rupiah terhadap mata uang utama dunia. "Sangat berbahaya bagi perekonomian nasional jika 60 persen perusahaan di Indonesia saat ini belum menerapkan hedging," ujar mentor di bidang pasar uang dan valuta asing itu.

Dia juga menekankan pentingnya Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mengikuti dan mengantisipasi pergerakan valuta asing dunia. Dengan volume transaksi valuta asing harian dunia sebesar USD5,3 triliun dan terus meningkat, katanya, pengaruh transaksi fluktuasi kurs sangatlah signifikan.

"Makin terbukanya suatu negara maka makin rentan pula ekonomi negara tersebut dari fluktuasi valuta asing utama dunia," ujarnya.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan BUMN yang melakukan transaksi dalam valas sebaiknya melakukan lindung nilai, karena apabila tidak diupayakan, bisa mengakibatkan kerugian dalam laporan keuangan perseroan dan pemeriksaan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kalau seandainya mereka melakukan hedging dengan betul, itu bisa ada keseimbangan sehingga tidak terjadi suatu risiko nilai tukar yang berakibat terhadap kerugian perusahaan," tukasnya.

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Edi Susianto menyebutkan lindung nilai merupakan suatu cara atau strategi untuk mengurangi atau meniadakan risiko keuangan baik yang timbul di sisi aset maupun kewajiban karena ketidakpastian harga terutama nilai tukar dan suku bunga.

Dia mengatakan, sebagian besar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belum melakukan lindung nilai (hedging). BUMN besar yaitu PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) sedang dalam proses finalisasi infrastruktur pendukung seperti standar operasi dan prosedur (SOP), sistem, sumber daya manusia dan sebagainya.

"Pasar valuta asing di Indonesia termasuk paling bergejolak karena didominasi transaksi tunai," ucapnya.

Selain itu, Mario Singh juga mengatakan pemerintah Indonesia harus menjaga nilai rupiah tidak terlalu melemah sehingga obligasi negara tetap akan menarik, karena imbal hasil atas obligasi tidak tergerus oleh tingkat pelemahan IDR (International Depository Receipt).

Dia juga merekomendasikan strategi untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen terutama dengan memprioritaskan pengembangan dan investasi di sektor keuangan, perbankan, pertambangan, kelautan dan agribisnis.  (Antara)
(WID)