Pembangunan PLTN Bisa Telan 5x Lipat PLTU Batu Bara

Dero Iqbal Mahendra    •    Kamis, 13 Aug 2015 17:11 WIB
nuklir
Pembangunan PLTN Bisa Telan 5x Lipat PLTU Batu Bara
Ilustrasi PLTU. ANTARA FOTO/Dedhez

Metrotvnews.com, Jakarta: Defisit kebutuhan listrik nasional tidak seharusnya ditutup oleh pembangunan Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Sebab, pada dasarnya PLTN tidak kompetitif secara ekonomi karena menelan biaya yang sangat mahal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Pengajar Pasca sarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Nengah Sudja, yang juga mantan sekertaris komisi persiapan pembangunan PLTN di era 1980an, di Jakarta, Kamis (13/8/2015).

Dalam berbagai kajian menunjukkan biaya pembangunan PLTN generasi tiga plus bisa mencapai lima kali lipat dari biaya pembangunan PLTU batu bara yang paling efisien baik dari segi dana maupun dari waktu pembangungan.

Dia mencontohkan untuk membangun 1.000 megawatt (mw) PLTN membutuhkan dana USD3,5 miliar-USD8 miliar dengan waktu pembangunan bisa mencapai 20 tahun. Sedangkan untuk PLTU membutuhkan dana USD1,2 miliar-USD1,5 miliar dengan waktu pembangunan antara empat hingga lima tahun.

Meski biaya bahan bakar PLTN murah bila dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, namun total biaya pembangkitan tenaga listriknya sangat mahal yang bisa mencapai USD12 sen per kWh.

Sedangkan untuk PLTU Batang saja hanya USD6,1 sen per kWh. Belum lagi untuk biaya capital cost untuk PLTN itu sangat tinggi terutama untuk mengamankan radiasi dan sisa limbahnya.

"Kita ini tidak ada pilihan lain saat ini sebab kita membutuhkan listrik yang cepat dan juga murah sehingga kelemahan PLTU itu memang harus kita terima, tidak masalah menjadi kotor namun dalam saat yang sama juga harus menjaga hutan untuk mengurangi polusi. Lagi pula pengguna PLTU terbesar itu adalah negara maju seperti Tiongkok, Amerika, Jerman, Rusia dan banyak negara lain konsumen besar dari batu bara," jelas Nengah.


(AHL)