Kejayaan Pasar Tanah Abang Diprediksi akan Berakhir

M Rodhi Aulia    •    Selasa, 25 Apr 2017 08:59 WIB
pertumbuhan ekonomipartai politikekonomi global
Kejayaan Pasar Tanah Abang Diprediksi akan Berakhir
Rhenald Kasali. Mi/Ramdani.

Metrotvnews.com, Bekasi: Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menilai saat ini terjadi disrupsi. Bahwa pemain lama dalam berbagai sektor akan kehilangan peran atau tersingkir oleh pemain baru.

"Sebagai ilmuwan kita harus memberikan arahan kepada bangsa ini agar tidak terkejut dan tahu penyebabnya. Kalau tahu penyebabnya, bisa mengantisipasi apa yang dialami," kata Rhenald di Rumah Perubahan, Bekasi, Jawa Barat, Minggu 23 April 2017.

Rhenald mengatakan pemain lama tidak boleh lengah dalam menjalankan program dan terobosannya. Pasalnya terdapat lawan-lawan yang tidak kelihatan dan jika tak antisipatif, diyakini akan menimbulkan keterkejutan.

"Taksi. Bagaimana Blue Bird tiba-tiba melaporkan keuntungan turun dan penjualannya yang turun. Kalau dulu kan kelihatan, muncul taksi Exspress. Kalau sekarang dia muncul tanpa merk, tanpa tulisan, tanpa plat kuning, orang turun juga tidak kelihatan sedang membayar. Tidak kelihatan lawannya," ujar dia.

Kemudian, tingkat kunjungan turis mancanegara yang disebut meningkat. Namun sebagian besar pengelola hotel merasa kunjungan itu tidak berbanding lurus dengan tingkat okupansi hotel.

"Mereka bilang buktinya tidak ada ke hotel. Lawan hotel tidak kelihatan. Karena ada rumah kos yang disulap menjadi tempat penginapan melalui aplikasi," kata dia.

Rhenald membantah bahwa pertumbuhan ekonomi melambat atau jelek. Rhenald menilai sebenarnya ekonomi tetap menggeliat, namun angkanya tidak tercatat.

"Apakah pasar Tanah Abang masih akan bisa bertahan? Prediksi saya tidak. Prediksi saya akan berakhir. Keramaian dan keriuhrendahan akan berakhir," ujar Rhenald.

Menurut Rhenald, saat ini eranya online. Konsumen tidak lagi datang berbelanja langsung ke pasar atau toko.

Begitu juga dengan perbankan. Rhenald melihat perbankan akan kehilangan peran jika tidak berbenah. Jika terus menjalankan bisnisnya dengan landasan teori lawas.

Bahkan di dunia politik demikian. Rhenald melihat peran partai politik sebagai tempat melahirkan calon pemimpin bangsa, terus memudar.

"Sudah bisa diramalkan bahwa parpol ini disruptif. Kita bisa lihat Jokowi yang memenangkan itu, relawan. Bukan parpol," ujar dia.

Rhenald juga mencontohkan kemenangan Donald Trump dalam Pilpres Amerika. Bagi Trump, kemenangan itu bukan pengaruh dari dukungan Partai Republik.

"Donald Trump menang, karena mesin yang ia bangun sendiri. Banyak yang mengatakan termasuk kita, tidak akan menang. Dia menang karena uang yang dikeluarkan sendiri, pasukan yang diciptakan sendiri dan pasukan itu tidak kelihatan. Ternyata pasukannya ada di salah satu negara di Eropa," ujar dia.

Tidak ketinggalan media massa juga terancam disruptif. Kue iklan tidak akan menumpuk di media mainstream. Tapi ke situs dan akun media sosial yang bertebaran di gawai masing-masing.

"Dunia ini lagi kacau bagi pemain lama. Siapa? Incumbent. Karena itulah saya harus menjelaskan," ujar dia.

Rhenald menjelaskan lebih rinci dalam buku terbarunya yang berjudul Disruption. Ada tiga logika yang dipakai Rhenald dalam bukunya ini.

"Pertama, logika masa lalu. Kita sekolah 20 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu, 30 tahun lalu, kita pakai hari ini ilmunya. Kita bekerja dengan ilmu masa lalu untuk memimpin hari ini," ucap dia.

Hampir semua perusahaan, kementerian, birokrasi dan partai politik, diisi mereka yang memiliki logika masa lalu tersebut. Padahal, kata Relevan, logika itu tidak lagi relevan jika ingin terus tetap bertahan atau menjadi pemenang.

"Siapa lawan-lawan kita? Lawan kita adalah mereka yang menggunakan ilmu masa depan, tidak di masa depan, tetapi dilakukan hari ini. Harganya lebih murah, aksesible dan berdampak penghancuran bagi pemain lama," ujar dia.

Solusi

Rhenald meminta agar pemain lama segera memiliki mesin baru. Dalam hal ini para anak muda yang memiliki kemampuan untuk bersaing menghadapi zaman disruptif ini.

"Di dunia ini, orang muda tidak punya masa lalu. Dia miskin masa lalu, tapi kaya masa depan. Ini yang dicari. Jadi mesin-mesin itu anak muda semua. Mau dia partai politik, mau itu rumah sakit," ujar dia.

Kemudian suasana kerja yang harus menyenangkan, sejenis co-working space. Rhenald sangat mewanti-wanti ekonom terhadap fenomena disrupsi ini.

"Karena ekonom ini membaca data lama. Datanya time series. Data tahun sebelumnya, bulan sebelumnya. Sekarang data real time. Statistik bisa dibaca real time. Seperti pilkada bisa langsung diketahui pemenangnya. Mudah-mudahan tidak mengejutkan," tandas dia.

Respons

Mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Moeldoko menambahkan buku yang ditulis Rhenald sangat relevan. Karena masa sekarang ini tidak semulus biasanya.

"Kitab sebenarnya diajak berpikir bagaimana menghadapi kondisi sekarang tidak bisa mulus. Tidak seperti melewati jalan tol, tidak melewati udara yang relatif nyaman, tidak. Semua penuh dengan tantangan yang harus diantisipasi sebelumnya," ujar Moeldoko dalam kesempatan yang sama.


(DHI)